Subscribe:

Kamis, 16 Juni 2016

Apa Cita-Citamu?

Apa Cita-Citamu
Apa cita-citamu? Pertanyaan ini sering kita dengar semasa kecil. Ketika ditanya dengan pertanyaan seperti ini, umumnya kita dapati jawaban beragam dari anak-anak. Bahkan mungkin sampai remaja dan dewasapun jawabannya bervariasi namun dari segi jenis jawabannya sama saja.

Tidak asing di telinga kita, ketika seorang anak ditanya apa cita-citamu nak? Maka mereka menjawab ingin jadi polisi, ingin jadi dokter, ingin jadi insinyur, ingin jadi pilot, dan ingin jadi yang lainnya.

Dan begitu juga harapan dari kebanyakan para orang tua saat ini. Kebanyakan yang kita dapati harapan dari para orang tua yang ada disekitar kita saat ini adalah harapan sukses didunia. Banyak orang tua yang ingin anaknya sukses diterima bekerja di perusahaan ternama, banyak orang tua yang ingin anaknya diterima bekerja sebagai PNS, banyak orang tua yang ingin anaknya menjadi orang yang mapan dengan berbagai macam profesi yang wah di dunia ini seperti doker, bankir, dan sebagainya.

Dan ternyata jika kita lihat cita-cita anak diatas tidaklah jauh dengan harapan orang tua kebanyakan. Jika kebanyakan anak cita-citanya adalah dunia, maka kebanyakan orang tuapun ternyata juga harapan yang tinggi bagi anaknya adalah mendapatkan kesuksesan di dunia. Dan kedua hal ini jika di telusuri lebih lanjut ternyata memang berkaitan antara satu dengan yang lainnya.

Cita-cita anak itu biasanya sangat dipengaruhi dengan gaya pendidikan orang tua terhadap anaknya. Apa saja yang diajarkan dan dibiasakan pada anaknya, maka itulah yang akan membentuk pola pikir pada seorang anak. Jika anak di silaukan dengan profesi dunia, kesuksesan dunia semata, maka cita-citanyapun tidak akan jauh dari hal tersebut.

Namun ternyata banyak yang orang tua lupakan saat ini. Ternyata hidup kita itu bukanlah hanya di dunia. Bahkan perjalanan kehidupan yang lebih panjang itu berada ketika kita telah meninggalkan dunia. Ketika ajal menjemput, masukkan kita keliang kubur dan disanalah kita memulai kehidupan yang panjang, penantian yang panjang dan jaub lebih panjang dibandingkan kehidupan dunia.

Tapi sayang banyak orang tua yang mengambaikan hal ini. Bahkan di masjid-masjid, di pelajaran-pelajaran agama untuk anak pun sudah banyak di ajarakan mengenai panjangnya kehidupan setelah kematian. Namun sayang banyak yang lalai terhadapnya.

Jika seandainya, cita-cita kita hanya pada sebuah profesi didunia, maka ketika kita mendapatkan hal tersebut, lalu apa yang akan kita tuju selanjutnya? Ketika kita ingin menjadi seorang yang sukses di dunia menjadi seorang pengusaha, dan ketika itu kita capai, lalu apakah semuanya sudah selesai dan kebahgiaan itu akan terus hinggap pada diri kita? Tentu jawabnya tidak. Karena sewaktu-waktu kematian akan menjemput kita. Dimanapun kita berada, maka Allah akan jalankan kita menuju tempat dimana kita akan meregang nyawa.

Lalu ketika nyawa itu telah lepas dari tubuh kita, apakah perkawanya selesai sampai disna? Dan tidak ada lagi perkara lain setelah kematian?

Tentu jawabnya tidak. Bahkan perkara setelah kematian itu lebih besar dan lebih berat ketimbang dunia ini. Apa-apa yang telah kita perbuat di dunia, kelak akan ditanyai dan kita pertanggung jawabkan di akhirat. Semakin banyak tanggungan kita, semaki banyak pertanyaan bagi kita.

Jika amalan kita baik didunia, maka balasan yang lebih baiklah yang akan di dapat di akhirat. Namun jika ternyata kehidupan kita hanyalah di cita-citakan untuk dunia, maka tentu yang kita khawatirkan bersama kerugian dan penyesalan yang amat dalam kelak di kehidupan yang sesungguhnya.

Maka ingatlah wahai saudaraku, dunia ini bukanlah sebuah tujuan sehingga kita hanya menggantungan cita-cita kita kepada dunia ini. Bahkan dunia ini sangatlah singkat, sangatlah cepat yang kita akan dengan segera meninggalkannya.

Ingatlah, akhirat itu adalah kehidupan yang sebenarnya, akhirat itu kehidupan yang panjang, akhirat itu yang kekal. Jangan sampai kita menjadi orang yang hanya mengambil sebagian dari kenikmatan yang sedikit, sementara kita meninggalkan bagian yang banyak yang merupakan tolok ukur kebahagiaan yang sebenarnya.

Mari kita renungkan kembali Firman Allah ta’ala,

Allah Ta’ala berfirman,

“Barangsiapa yang menghendaki keuntungan di akhirat maka akan Kami tambah keuntungan itu baginya, dan barangsiapa yang menghendaki keuntungan di dunia maka akan Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia, dan tidak ada baginya suatu bagian pun di akhirat.” (Qs. Asy-Syura: 20)

Allahu a’lam

Akun FB RUMAH BELANJA WHYLUTH

Tidak ada komentar:

Posting Komentar