Subscribe:

Jumat, 19 September 2014

Kualitas Jilbab Sya’i Spandek Sutra

jilbab syar'i spandek sutra
jilbab syar'i spandek sutra
Jilbab syar’i spandek sutra merupakan salah satu produk jilbab yang di jual di Rumah Belanja Muslim yang diperuntukkan sebagai jilbab syar’i rumahan yang nyaman dipakai. Jilbab ini seperti kami sebutkan diawal terbuat dari bahan kain spandek sutra yang dingin.

Dalam memilih produk jilbab untuk dipakai dalam keseharian, tentu anda memiliki beberapa pertimbangan dalam menilainya layak atau tidak untuk anda beli. Dan kebanyakannya pertimbangan yang pertama menjadi standar adalah kualitas produk jilbabnya. Karena tidak dipungkiri, bahwasannya hampir setiap orang ini menginginkan kualitas yang baik walaupun buget nya sedikit.

Nah berikut ini, kami sampaikan beberapa kriteria kualitas produk jilbab syar’i spandek sutra yang dapat menjadi pertimbangan bagi anda dalam menentukan pilihan jilbab syar’i untuk berkegiatan disekitaran rumah.

1.    Kain Jilbab Lebih Tebal

Kita ketahui bersama bahwasannya kain spandek sutra yang merupakan bahan dasar untuk pembuatan jilbab ini memiliki jenis dan kualitas yang bermacam-macam. Ada kain spandek yang tipis sekali seperti spandek balon, atau spandek sutra yang agak tebal tapi tetap tipis dan transparan, atau ada juga yang tebal, sedikit agak kaku namun mudah menimbulkan bekas/bergaris ketika terkena goresan. Nah, kain spandek sutra yang kami jadikan sebagai jilbab syar’i disini adalah dari jenis kain spandek sutra yang tebal, halus, dan tidak mudah menimbulkan bekas garis / goresan ketika terkena kuku atau selainnya. Hal ini bisa langsung anda cek ketika anda belanja jilbabnya langsung di tempat kami, atau anda juga bisa cek untuk yang belanja online ketika jilbab syar’inya sudah sampai dirumah anda.

Jadi kualitas jilbab syar’i spandek sutra produk kami dari sisi kainnya tergolong pada kualitas favourit yang banyak diminati. Karena memang kainnya cenderung lebih dingin, lebih tebal, dan tidak mudah membekas ketika terkena goresan seperti pada kualitas kain spandek sutra yang lain.

2.    Jilbab Panjang Menutup Seluruh Tubuh

Jika kita lihat kebanyak jilbab yang dibuat dari bahan kain spandek sutra di pasaran saat ini, maka kita akan ketemukan banyak dari jilbab-jilbab tersebut modelnya pendek-pendek, ada yang hanya menutupi dada, ada yang sepundak, da nada juga yang sampai siku saja. Bahkan terkadang kita temua jilbab yang panjang hanya sampai sikupun sudah dilabeli dengan jilbab syar’i, padahal jika kita lihat keterangan dari syariat yang telah dijelaskan oleh para ulama, maka salah satu ketentuan / syarat jilbab syar’i haruslah menutupi seluruh tubuh termasuk pantat.

Oleh karena itu, jilbab syar’i dari spandek sutra produk yang kami jual ini, walaupun peruntukannya adalah kami referensikan untuk jilbab rumahan, namun dari panjangnya sudah memenuhi panjang minimal jilbab syar’i yaitu menutupi seluruh tubuh. Jika dirinci dalam ukuran panjang, maka jilbab syar’i spandek sutra ini memiliki panjang depan kurang lebih 95 cm dan belakang 110 cm. Dengan ukuran rinci ini, pelanggan dapat memperkirakan sampai mana panjang jilbab ini jika dipakai. Namun jika dengan perkiraan rata-rata, maka jilbab syar’i ini sudah menutupi seluruh tubuh termasuk pantat di bagian belakangnya.

3.    Sifat Jilbab Dingin

Walaupun jilbab ini terbuat dari bahan kain yang cukup tebal dan panjang yang menutupi seluruh tubuh, namun sifat jilbab ini saat dikenakan tetap saja dingin. Dengan sifat yang dingin ini maka jilbab syar’i ini sangat cocok deikenakan oleh kaum muslimah di iklim tropis seperti Indonesia ini. Walaupun saat dipakainya terlihat tertutup, namun tetap saja nyaman dan tidak mengganggu aktifitas keseharian anda.

4.    Kain Jilbab Lentur dan Jatuh

Selain memiliki sifat yang dingin, kain jilbab ini memiliki sifat yang lentur dan jatuh. Dengan mengenakan jilbab syar’i yang lentur dan jatuh ini, anda akan lebih nyaman, karena ketika dipakai tidak ribet, dan dapat menyesuaikan dengan posisi tubuh saat beraktifitas.

5.    Jahitan Jilbabnya Rapi

Kualitas jilbab syar’i ini, selain dilihat dari sisi kualitas kainnya, dan panjang jilbabnya, maka juga dapat dilihat dari jahitan jilbabnya. Jika dilihat dari dari kerapian jahitan produk jilbab syar’i spandek sutra di Rumah Belanja Muslim ini, walaupun menjahit bahan jilbab spandek sutra yang lentur ini relative sulit, maka tergolong jahitan jilbab kami adalah jahitan yang rapi. Rapi disini artinya didak belok-belok atau asal, serta jahitannya kerap dan beruntut, tidak terlihat sambung-sambungan jahitan jilbabnya. Jika dilihat dari potongannya juga jilbab syar’i spandek sutra ini tergolong rapi, sehingga berefek juga pada jahitan yang terlihat rapi karena tidak mengombak.

6.    Topi Jilbab Lentur Tidak Mudah Patah

Jika dilihat dari sisi topi jilbabnya, atau pet nya, maka busa pet jilbab syar’i ini adalah busa dari golongan yang lentur dan tidak mudah patah. Sehingga ketika dipakai, pas dimuka, dan tidak mudah patah ketika dilipat.

7.    Model Jilbab Sipel

Model jilbab syar’i dari spandek sutra yang kami jual ini adalah model jilbab yang tergolong simpel dan tidak banyak pernak pernik yang mencolok. Model jilbabnya polos dan terdapat kriwil dibagian bawahnya. Tambahan kriwil pada jilbab ini juga menambah sedikit panjang jilbab syar’inya.

8.    Harga Jilbab Sudah Termasuk Cadar Tali

Seperti yang telah kami singgung pada poin kualitas jilbab pada ukuran panjang jilbab diatas, bahwasannya kebanyakan jilbab spandek sutra yang dijual dipasaran ini ukurannya cukup mini, dan kebanyakan yang panjangpun kemungkinan panjangnya sesiku, walaupun ada juga yang lebih panjang dari itu. Jika dilihat dari harganya, banyak dari jilbab yang mini ini atau jilbab spandek sutra yang lebih pendek dari produk jilbab kami ternyata harganya bisa lebih mahal atau sama dengan jilbab syar’i sapdek sutra yang panjangnya menutup seluruh tubuh termasuk jari tangan.

Jika kebanyakan jilbab spandek sutra yang dijual dengan harga sama dengan produk kami itu biasanya belum termasuk cadar, dan kebanyakannya lebih pendek dari ukuran jilbab kami, bahkan ada sebagiannya lebih ngetat, maka dari harga yang kami patok untuk produk jilbab syar’i kami ini sudah mencakup harga jilbabnya dengan panjang menutupi seluruh tubuh dan termasuk cadar model tali. Maka dari sini, jilbab syar’i spandek sutra produk kami ini tergolong pada jilbab dengan harga yang murah, namun tidak murahan.

Nah, beberapa kriteria kualitas yang kami sebutkan diatas mungkin sudah cukup untuk menjadikan pertimbangan bagi anda untuk belanja jilbab syar’i di Rumah Belanja Muslim. Tentunya harapan kami, dengan kualitas yang kami tawarkan ini, dapat memotivasi anda juga untuk dapat mengenakan jilbab syar’i walaupun ketika berada disekitaran rumah. Karena ternyata di ruamah pun kita terkadang tidak terbebas dari terlihatnya aurat dari laki-laki non mahrom kita. Maka jilbab syar’i ini dapat menjadi pilihan jilbab sehari-hari bagi anda semua.

Untuk Info dan pemesanan jilbab syar'i ini, anda dapat hubungi kami melalui,
* WA / LINE / SMS 08170414024
* Pin BB 7CC88450

Fanpage kami di RUMAH BELANJA MUSLIM
Add juga akun FB kami di RUMAH BELANJA WHYLUTH 

Kamis, 18 September 2014

Gelar Setelah Ibadah Haji

gelar haji
Musim haji seperti saat ini banyak dari masyarakat kita yang diberi kesempatan oleh Allah untuk dapat melaksanakan salah satu ibadah yang merupakan salah satu dari rukun Islam yaitu ibadah haji. Ibadah ini adalah ibadah yang agung yang disyariatkan oleh Allah. Namun ternyata tidak semua kaum muslimin dapat melaksanakan ibadah ini, kerena memang ibadah haji ini adalah ibadah yang dilakukan untuk seorang muslim yang mampu.

Selain ibadah ini adalah ibadah yang agung yang merupakan salah satu rukun di dalam Islam, maka di negri kita, ibadah ini juga merupakan ibadah yang membutuhkan biaya yang besar. Karena itu maka kebanyakan muslim di negeri kita ini yang mampu menunaikannya adalah orang-orang yang memiliki harta, walaupun banyak juga dari muslim di negeri kita ini yang mungkin dari sisi harta mereka terihat sederhana namun mampu untuk menunaikan ibadah haji ini atas kehendak Allah subhanahu wa ta’ala.

Usai melaksanakan ibadah haji ini, sudah merupakan kebiasaan yang banyak dilakukan di masyarakat kita setiap orang yang telah pulang dari baitullah akan mendapat gelar dan embel-embel haji fulan atau hajjah fulanah. Hal ini mungkin karena kebiasaan, sehingga masyarakat umumnya secara otamatis memanggilnya dengan gelaran ini, walaupun terkadang ada juga yang tidak mau diberi gelar haji ini pada dirinya.

Entah dari mana asal kebiasaan pemberian gelar haji ini kepada setiap muslim yang telah menunaikan ibadah haji ini awalnya, sehingga sudah hampir menjadi kebudayaan yang harus diikuti. Bahkan ada sebagian dari saudara kita yang telah melaksanakan ibadah yang agung ini mereka menetapkan untuk dirinya sendiri gelaran ini baik di KTP mereka, pada pengenalan diri, atau pada penulisan nama yang seolah-olah tidak ridho jika tidak ditampilkan gelar haji ini pada dirinya.

Mungkin hal seperti ini dilakukan ditengah-tengah masyarakat kita tidaklah menjadi sesuatu yang aneh, karena memang sudah biasa dan banyak yang melakukannya. Namun coba kita bayangkan, jika kita hidup dizaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian kita memberikan gelaran ini pada diri kita, kira-kira apa yang akan terjadi?

Seperti yang kita ketahui bersama, bahwasannya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam berhaji berkali-kali namun tidak pernah nama beliau berubah menjadi Haji Muhammad, atau para sahabat beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah namanya disematkan dengan gelaran haji, seperti orang-orang dimasa ini. Cob abaca di buku-buku Islam, atau buku-buka siroh, apakah kita temui ada nama sahabat yang menggunakan gelar haji, seperti Haji Abu Bakr, Haji Umar, Haji Utsman, atau Haji Ali bin Abi Tholib? Tentunya tidak kan?

Bukankah contoh terbaik dan yang merupakan suri tauladan bagi kaum muslimin adalah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam? Lalu mengapa kita tidak ikuti saja apa yang dilakukan oleh beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam yang tidak menyematkan gelar haji pada namanya? Seandainya boleh, maka tentunya beliau lebih layak menyandangnya.

Seperti yang kita ketahui, haji merupakan rukun Islam yang kelima bagi setiap muslim. Sebelum rukun yang kelima ini tentunya ada rukun-rukun sebelumnya, seperti sholat, puasa, dan zakat. Lalu mengapa ketika kita telah usai melaksankan ibadah-ibadah pada rukun Islam sebelumnya tidak digelari dengan Sholat Fulan, Puasa Fulan atau Zakat Fulan? Kalau kaitannya dengan kalimat syahadt maka tentu ini adalah pembeda dari seorang mukmin dan kafir, dan telah jelas nashnya bahwasannya ini merupakan syarat seseorang masuk islam yang kemudian mendapat gelar seorang muslim (tapi tidak ditulis di depan nama).

Lalu pertanyaannya, apa penyebeb gelar ini (yaitu haji) bisa disematkan di depan nama-nama kaum muslimin disekitar kita? Apakah karena ini adalah rukun yang terahir, sehingga mau menginformasikan bahwasannya sudah selelsai syariat Islam padanya (rukun Islam) dan mendapat gelar seperti halnya seorang yang telah selesai menjalani pendidikan tinggi lalu diberi gelar Sarjana untuk tingkat S1?

Atau karena untuk dapat menjalankan ibadah ini membutuhkan biaya yang cukup besar sehingga tidak rela jika ini tidak terlihat oleh orang lain, bahwasannya ini lho saya mampu mengeluarkan uang besar untuk naik haji, sehingga harus disematkan gelar haji ini pada nama kita?

Mudah-mudahan ini bukanlah alasan mengapa label haji itu banyak disematkan di nama-nama kaum muslimin di zaman kita ini.

Namun yang harus kita ketahui bersama, bahwasannya agar ibadah itu dapat diterima oleh Allah subhanahu wa ta’ala maka hendaknya memenuhi dua syarat. Apa itu syaratnya? Syaratnya yaitu yang pertama Ikhlas dan Mutaba’ah. Ikhlas yaitu ikhlas melaksanakan ibadah hanya kerana Allah, hanya mengharap ridho Allah, hanya mengharap Wajah Allah subhanahu wa ta’ala, dan ittiba’ hanya kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, bukan kepada budaya, bukan kepada nenek moyang, bukan kepada orang tua, bukan kepada kiyai, ajengan, ustadz atau sejenisnya, apalagi kepada hawa nafsu.

Ketika kita ibadah hanya mengharap wajah Allah maka tentunya kita tidak akan tempakkan ibadah ini kepada manusia karena khawatir merusak keikhlasan kita. Karen ketika rusak keikhlasan kita ini saat beribadah entah karena mengharap ridhonya manusia, mengharap dunia atau lainnya, maka dikhawatirkan ibadah yang kita lakukan, haji yang kita kerjakan dengan bermodal biaya yang besar tidak diteri Allah subhanahu wa ta’ala. Maka hendaknya kita takut terhadap perbuatan memanerkan ibadah, menampakkan ibadah agar terlihat oleh manusia dengan pemberian gelar haji atau sejenisnya. Selain ini khawatir mdapat merusak keikhlasan, juga ini tidak ada dasar tuntunannya dari Syariat Islam yang dibawa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Wallahu a’lam.

Link Gamis Syar'i Untuk Muslimah 
Fanpage kami di RUMAH BELANJA MUSLIM

Artikel  : Gelar Setelah Ibadah Haji