Subscribe:

Senin, 01 September 2014

Mendidikan Anak Dengan Ketegasan

mendidik anak dengan ketegasan
Masa kanak-kanak merupakan masa-masa belajar, dimana pada masa ini tentunya anak akan lebih sering melakukan kesalahan dikarena ia masih belajar. Berbagai macam kesalahan yang diperbuatnya kemungkinan karena ketidaktahuan sang anak, ataupun lupa, atau kealpaan perhatian orang tua sehingga anakpun “caper” dengan melakukan perbuatan yang berbahaya atau salah. 

Memang benar bahwasannya mendidik anak itu hendaknya dengan kasih sayang. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun telah mencotohkan cara mendidik anak dengan kasih sayang melalui sabdanya dan perilakunya terhadap cucu-cucu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Maka mendidik anak dengan kasih sayang ini bukan berarti meniadakan tindakan tegas pada anak. Ketika seorang anak dalam masa belajarnya melakukan kesalahan, hendaknya setiap orang tua dapat mengerti dan memahami apakah sebab si anak melakukan kesalahan. Apakah sebab si anak tidak tahu bahwasannya yang ia lakukan itu salah, atau kurangnya perhatian orang tua, atau sebab lingkungan, atau sebab tauladan yang buruk dari dari orang tua ataukah sebab-sebab yang lainnya. Dengan memahami sebab ini maka orang tua dapat lebih bersikap adil kepada anaknya dalam mengambil tindakan tegas terhadapnya.

Namun yang harus difahami juga bukanlah ketegasan itu adalah sebuah kekerasan, seperti membentaknya, memarahi anak didepan umum, atau memukulnya. Karena tegas itu berbeda dengan keras. Setiap ketegasan belum tentu kekerasan, dan setiap kekerasan bukan berarti itu adalah ketegasan.

Sesungguhnya yang disebut dengan ketegasan dalam mendidik anak ini adalah sikap konsistensi terhadap perintah dan larangan. Artinya ketika orang tua memerintah sesuatu dan melarang terhadap sesuatu hendaknya ia konsisten di dalamnya. Jangan ketika memerintah dan melarang saat ini di perintah atau dilarang, dikarenakan rengekan anak maka berubah sikap.

Mari kita ambil contoh, misalkan seorang anak ingin bermain game disebuah tempat dimana ditempat tersebut banyak terdapat pelanggaran syariat, diantaranya diputar musik, wanita membuka aurat, ikhtilat, orang-orang melalaikan sholat, dan lain sebagainya. Ketika sang anak meminta maka niscaya orang tua tidak memberi izin untuk main game di tempat tersebut, namun kemudian anak tersebut merengek-rengek meminta dengan belas kasihan agar diberi izin untuk main ditempat tersebut, akhirnya karena kasihan sang orang tuapun memberikan izin padanya.

Inilah contoh dari tindakan tidak tegas dari orang tua, yaitu tidak konsisten terhadap larangan. Sehingga ketika sang anak menangkap sikap ini, dan menyimpulkan dalam dirinya bahwasannya rengekan dapat meluluhkan orang tua. Akhirnya pada kemudian harinya merengek ini kembali dijadikan senjata ampuh untuk melanggar aturan orang tuanya.

Namun ketika suatu perintah dari orang tua atau larangan orang tua itu dianggap tidak mengandung larangan syariat, maka sesekalipun boleh memenuhi permintaan anak, namun dengan penjelasan terlebih dahulu dan dengan melihat latar belakang anak menginginkannya, apakah karena manja saja, ataukah memang karena benar-benar membutuhkan apa yang ia inginkan tersebut.

Maka ketegasan dalam bertindak itu sangat diperlukan dalam mendidik anak. Hal ini agar si anak menjadi tahu bahwasannya ketika sesuatu itu tidak boleh dikerjakan ia tidak akan mengerjakannya karena tahu tidak ada kelonggaran di dalamnya jika dalam perkaranya terdapat pelanggaran syariat Islam.

Hal yang sama pun berlaku ketika sang anak melakukan kesalahan. Ketegasan disini adalah dalam rangka menasihati sang anak. Dan mesti disesuaikanpula dengan sebab-sebab apa yang membuat anak ini melakukan kesalahan.

Karena bisa jadi sebab anak melakukan kesalahan ini adalah karena teladan yang buruk dari orang tuanya sendiri, maka ketegasan itu berlaku pada diri orang tua agar dapat memperbaiki kesalahannya terlebih dahulu dan menjelaskan kepada anak bahwasannya apa yang ia contoh dari orang tua itu adalah kesalahan yang harus diperbaiki.

Maka merupakan cara mendidik anak yang baik adalah sikap kasih sayang dan tegas yang pada porsinya. Dalam mendidik anak haruslah diiringi dengan kasih sayang dan terkadangpun harus tegas tanpa kekerasan.

Sikap tegas dalam mendidik anak ini telah dicontohkan oleh Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam saat cucu beliau memakan kurma sedekah. Hal ini sebagaimana hadist yang di ceritakan oleh Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu,

Al Hasan bin Ali radhiallahu anhu mengambil sebutit kurma sedekah lalu memasukkannya kemulutnya. Melihat hal itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan kepadanya, ‘kikh, kikh!’ supaya al Hasan memuntahkannya. Kemudian, beliau bersabda, ‘tidakkah engkau tahu bahwa kita (ahli bait Nabi) tidak boleh memakan harta sedekah?” (HR. Bukhori, dan Muslim)

Begitu juga teladan sikap tegas yang dapat kita ambil dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika anak tirinya melakukan kesalahan kemudia beliu nasihati dengan kalimat yang bijaksana,

“Dari sahabat Umar bin Abi Salamah radhiallahu ‘anhu, ia mengisahkan: Dahulu ketika aku masih kecil dan menjadi anak tiri Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam, dan (bila sedang makan) tanganku (aku) julurkan ke segala sisi piring, maka Rasulullahshallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, ‘Hai nak, bacalah bismillah, dan makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah dari sisi yang terdekat darimu.’ Maka semenjak itu, itulah etikaku ketika aku makan.” (Muttafaqun ‘alaih)

Disinilah ketgasan orang tua diperlukan dalam mendidik anak. Ketegasan ini dipelukan ketika memerintah, melarang, dan juga ketika melihat anak-anak kita melakukan kesalahan. Ketika memerintah hendaknya orang tua kosisten dalam memerintah, melarang dan menasihati anak ketika melakukan kesalahan. Seperti yang telah disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai perintah sholat dari usia tujuh tahun, dan di usia sepuluh tahun boleh dipukul (tanpa kekerasan) ketika tidak mau sholat.

Dari contoh yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ini juga dapat kita tarik kesimpulan bahwasannya mendidik anak itu terdapat dua hal, yaitu memerintah pada kebaikan dan melarang dari keburukan. Maka cara mendidik anak yang baik adalah dengan selalu memerintahkan berbuat baik kepada anak, dan melarang dari perbuatan buruk. Jangan sekali-kali membiarkan akan melakukan perbuatan buruk yang melanggar syariat dengan alasan tidak mau mengatakan “tidak boleh” karena alasan kasihan, atau yang lainnya. Wallahu a’lam.

Akun Facebook Rumah Belanja Whyluth 

Minggu, 31 Agustus 2014

Kembali Pada Jilbab Syar’i

Memakai jilbab bagi muslimah adalah wajib, dan ini hampir diketahui oleh semua orang Islam. Setelah tahu hukumnya adalah wajib, maka yang harus diketahui berikutnya adalah bagaimana jilbab yang wajib dikenakan oleh muslimah. Apakah asal bisa menutupi kepala saja, atau asal menggantungkan kain di kepala itu sudah benar dikatakan telah melaksanakan kewajiban berjilab?
Kembali Pada Jilbab Syar’i
Untuk mengetahui bagaimana jilbab yang diinginkan dalam syariat Islam ini maka kita harus melihat dalil–dalil yang ada dan penjelasan dari para Ulama. Setelah melihat penjelasan dari para ulama, ternyata bagaimana jilbab itu, dan batasan–batasan jilbab ini terdapat beberapa pendapat ulama. Namun pada artikel ini kami akan menukil kesimpulan yang kuat dari pendapat tersebut mengenai apa yang dimaksut dengan jilbab. Yang dimaksut dengan jilbab adalah kain yang menutupi kepala, leher dan punggung sehingga konsekwensinya panjang jilbab yang harus dikenakan muslimah adalah sampai patat. Dan inilah makna jilbab syar’i yang benar, insya Allah. Pembahasan lebih lengkap mengenai jilbab ini, dapat di cek disini.

Dari sini, maka kita dapat menilai apakah jilbab yang banyak beredar saat ini sudah benar sesuai dengan apa yang ada dalam Islam atau belum. Ternyata dalam kenyataannya masih sedikit muslimah yang memperhatikan bagaimana jilbab yang benar yang diinginkan dalam syariat. Kebanyakan di masyarakat kita hanya sekedar ikut-ikutan apa yang sedang tren dan banyak dipakai oleh banyak orang, atau model jilbab mana yang bisa membuat ia bertambah cantik ketika  dikenakannya.

Dengan banyaknya muslimah yang kurang mengetahui makna jilbab syar’i ini berimbas pada pandangan negative kepada muslimah lain yang memakai jilbab yang benar. Ketika seorang muslimah memakai jilbab yang beanar, justru mendapat celaan, mendapat hinaan, atau mendapat cemoohan. Seolah-olah jilbab panjang, menutupi aurat dengan sempurna ini bukanlah syariat Islam. Dan munculan anggapan – anggapan bahwasannya jilbab ini adalah pengekang wanita sehingga tidak bebas sebagaimana bebasnya orang-orang kafir untuk telanjang di tempat umum. Dengan memakai jilbab panjang aktifitas wanita menjadi terbatas. Mereka tidak bisa berekpresi bebas.

Ini adalah fakta dan merupakan fenomena yang menyedihkan bagi kaum muslimah, dimana syariat Islam hanya tertinggal pada teks-teks kitab-kitab ulama yang sudah mulai ditinggalkan sedikit-demi sedikit hingga lama-lama syariat itu menjadi asing bagi kaum muslimin. Sampai-sampai seorang muslim tidak mengetahui apa saja yang termasuk dalam syariat Islam. Benarlah apa yang pernah disabdakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwasannya Islam datang dalam keadaan asing dan akan kembali pada keadaan asing pula, dan ternyata orang-orang yang asing ini adalah orang-orang yang beruntung kata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Oleh karena itu, kewajiban kita saat ini adalah kembali kepada syariat Islam yang benar, dan meninggalkan budaya-budaya yang rusak yang sudah terlanjur menjakiti tubuh-tubuh kaum muslimin di saat ini. Jauhkan media-media perusak akidah, perusak akhlak dari rumah-rumah kita. Dekatkan diri kita keluarga kita, dan kerabat dekat kita dengan al-Qur’an dan hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mudah-mudahan kita dimudahkan Allah dalam kebaikan. Amiin. 

Akun Facebook Rumah Belanja Whyluth