Subscribe:

Rabu, 30 Maret 2016

Menimbang Validitas Berita

Menimbang Validitas Berita
Di zaman modern serba instan saat ini betapa mudah kita untuk mengakses berita-berita dari luar sana. Terkadang berita itu tidak kita inginkan mencarinyapun muncul di beranda-beranda media sosial yang kita buka. Bahkan ketika kita mencari tulisan-tulisan yang baik, inslami, ilmiyah melalui media internet terkadang berbagai macam suguhan berita yang tidak layak untuk dibacpun muncul di jendela pencarian kita. 

Mengenai berita ini, maka tentu ada sumber yang mebawakan berita. Terkadang berita ini bersumber sah dari kaum muslimin, terkadang bersumber dari orang-orang fasiq, orang-orang non muslim, ataupun orang-orang munafiq yang menyamar sebagai muslim.

Oleh karena banyaknya kemungkinan dari sumber pembawa berita ini, maka tidaklah serta merta berita yang disajikan kepada kita ini dapat kita telan mentah-mentah dan mengkonsumsinya menjadi sebuah keberanan. Apalagi jika berita itu berkaitan dengan agama kita, berkaitan dengan keyakinan kita, berkaitan dengan kehormatan orang lain, dan sejenisnya.

Maka ketika suatu berita banyak beredar di kaum muslimin, apalagi berita itu jelas sumbernya dari kaum fasiq, dari kaum kafir, maka tentu lebih-lebih yang seperti ini kita harus selektif lagi dalam menerimanya. Apalagi kalau orang fasiq itu, orang kafir itu menyebar berita yang berkaitan dengan agama dan keyakinan kita. Tentu saja kita harus ekstra hati-hati terhadao berita darinya.

Karena, bisa saja berita yang ia buat, berita yang ia sebarkan itu mengandung unsur pemecah belah umat Islam. Dengan memecah belah umat Islam ini, membuat keributan di dalamnya, mebuat perselisihan, mengibarkan bendera peperangan terhadap sesamanya, maka tentu akan semakin membuat lemah kaum muslimin saat ini yang memang sudah lemah karena terpecah-pecahnya kita. Ketika umat Islam ini sudah semakin lemah, maka dengan mudah saja orang-orang kafir itu, orang-orang jahat / fasiq itu menghancurkan kita, mencobak cabik kehormatan kita, sehingga barisan kaum muslimin menjadi kocar kacir.

Maka selektiflah dalam mengambil berita. Kalau saja dalam sebuah penelitian ilmiah di kampus-kampus ataupun lembaga penelitian yang meneliti permasalahan dunia saja ketika akan mengambil materi uji, pengambilan sampel yang akan dipergunakan dalam penelitian saja harus diuji validitasnya, maka apalagi kalau materi berita yang kita konsumsi itu berkaitan dengan Agama, berkaitan dengan akhirat kita yang akan menjadi keyakinan kita dan tentu kelak akan kita pertanggung jawabkan di hadapan Allah. Tidakkah akhirat itu lebih utama untuk kita perhatikan ketimbang dunia?

Perhatikan, Allah ta’ala telah berfirman di dalam al-Qur’an mengenai sikap seorang muslim dalam menerima berita dari orang-orang fasiq sebagi berikut,

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِن جَآءَكُمْ فَاسِقُُ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَن تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَافَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

 Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu”. (Al Hujurat : 6).

Oleh karena itu, marilah kita jadikan timbangan dalam kita bersikap khususnya dalam penerimaan berita itu adalah sumber agama kita, yaitu al-Qur’an dan Sunnah yang shahih. Jangan sekali-kali kita menjadikan tolok ukur kebenaran sesuatu itu berdasarkan akal-akal kita yang lemah. Karena akal ini bukanlah hakim penentu kebenaran dan kebaikan, akal hanyalah perantara untuk kita memahami dalil dalam rangka menimbang sesuatu itu baik atau buruk.

Dan ingatlah wahai saudaraku yang suka menyebar berita-berita yang tidak jelas sumbernya, atau berita-berita yang memjokkan umat Islam yang asalnya dari orang-orang fasiq. Ketika kamu tidak memiliki pengetahuan tentang perihal apa yang diberitakan itu, kamu tidak memiliki ilmu, dan kayikinan yang Ilmiah terhadap sebuah berita itu, maka tahanlah lisan-lisanmu untuk berucap. Bisa jadi itu adalah sepela bagimu, namun besar di sisi Allah. Allah ta’ala berfirman,

وَتَقُولُونَ بِأَفْوَاهِكُم مَّالَيْسَ لَكُم بِهِ عِلْمٌ وَتَحْسَبُونَهُ هَيِّنًا وَهُوَ عِندَ اللهِ عَظِيمٌ

Kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit juga, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal dia pada sisi Allah adalah besar”. (An Nur : 15).

Wallahu a’alam.

Fanspage RUMAH BELANJA MUSLIM
Akun FB RUMAH BELANJA WHYLUTH