• Pendaftaran Group WA RBM Quotes

    Saat ini Rumah Belanja Muslim membuka Group WhatsApps (WA) khusus akhwat. Group ini kami beri nama “RBM Quotes”. Gabung di group inu GRATIS, siapa saja boleh gabung asal muslimah dan siap menjaga adab dan mematuhi peraturan Group.

  • Kain Shakila

    Pernah dengar kain shakila ? Atau pernah liat kain shakila ? Apakah jenis kain shakila ini adem dan bagus ? Yuk kita sedikit ulas kain shakila yang sekarang lagi banyak diminati ini.

  • Untuk Apa Medsos Kita

    Untuk apa sosmed kita ? Mungkin ini adalah pertanyaan yang tepat yang dapat kita tujukan kepada diri kita masing - masing....

  • Mengapa Anak Berbusana Syar'i Sejak Dini ?

    Melihat anak - anak yang belum baligh memakai busana syar'i bahkan ada yang di pakaikan cadar oleh orang tuanya. Mungkin ada sebagian dari kita yang bertanya - tanya. Emang harus ya anak - anak di kasih baju seperti itu ?

  • Jangan Malu Memakai Sirwal Laa Isbal

    Kalimat ini mungkin cocok untuk kita sampaikan kepada saudara - saudara kita yang ingin berhijrah mengenakan pakaian yang Islami, namun masih sungkan dan malu - malu memakainya.

Tampilkan postingan dengan label bercanda. Tampilkan semua postingan

Mencandai Syariat

0 komentar
Mencandai Syariat
Bercanda merupakan hal yang sering dilakukan oleh manusia. Terkadang bercandang ini juga berkaitan dengan pembawaan seseorang. Maka tidak heran terkadang banyak kita lihat orang yang sangat sering bercanda, dan hampir seluruh perkataannya mengandung canda, namun ada juga orang yang sangat sulit bercanda sehingga kesan yang ditimbulkan darinya adalah serius terus.

Lalu apakah bercanda itu dilarang dalam dalam syariat Islam? Tentu bercanda yang sewajarnya ini tidak ada larangan dari syariat Islam. Bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun ternyata juga pernah bercanda. Namun jika bercanda itu diluar batas wajar, terlalu sering maka ini dapat membahayakan hati seorang hamba. Hal ini sebagaimana Nasehat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu berikut,

Janganlah banyak tertawa! Sesungguhnya banyak tertawa akan mematikan hati.” (Hadits Hasan Riwayat Tirmidzi)

Berkaitan dengan bercanda ini, kita dapatkan di sekitar kita saat ini begitu banyak orang yang berlebihan dalam bercanda. Bahkan candaan tersebut dapat membahayakan keIslamannya. Dimana dengan candaan tersebut seorang muslim bisa mandapatkan ancaman yang sangat keras yaitu keluar dari Islam.

Coba kita lihat dilingkungan sekitar kita saat ini, betapa banyak saudara-saudara kita yang sangat hobi bercanda / mentertawakan syariat Islam. Seperti yang saat ini tidak asing ditelinga kita bahwasannya mereka mencandai syariat memanjangkan / membiarkan jenggot panjang seperti kambing, mencandai syariat menutup aurat dengan busana yang tertutup dengan warna yang gelap-gelap sebagai istri teroris, orang aneh, mencandai dan meledek seorang laki-laki yang memakai celana diatas mata kaki seperti kebanjiran dan lain sebagainya.

Jika anda juga termasuk orang yang suka / pernah mencandai syariat-syariat Islam, maka hendaknya kita melihat kembali Firman Allah ta’ala berikut,

وَلَئِن سَأَلْتَهُمْ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ ۚ قُلْ أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ لَا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُم بَعْدَ إِيمَانِكُمْ

Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentu mereka akan menjawab: "Sesungguhnya kami hanya bersenda gurau dan bermain-main saja”. Katakanlah: "Apakah dengan Allah, ayat-ayatNya dan RasulNya kamu selalu berolok-olok?” Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman  (At Taubah : 65-66).

Sebab turunnya ayat ini,

Dahulu ketika dalam peristiwa perang tabuk ada sekelompok manusia bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan mereka adalah muslimin, kemudian dalam suatu majelis ada yang mengatakan: “Kita tidak pernah melihat seperti para qurro’ (pembaca-pembaca) kita ini yang paling dusta lisannya, paling buncit perutnya (paling rakus dalam makan), paling penakut ketika bertemu musuh”, mereka memaksudkan dengan ucapannya itu adalah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan para sahabat beliau.

Maka berkatalah Auf bin Malik kepadanya: “Omong kosong yang kamu katakan. Bahkan kamu adalah munafik. Niscaya akan aku beritahukan kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam ”. Lalu pergilah Auf kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam untuk memberitahukan hal tersebut kepada Beliau. Tetapi sebelum ia sampai, telah turun wahyu Allah kepada Beliau. Ketika orang itu datang kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, Beliau telah beranjak dari tempatnya dan menaiki untanya. Maka berkatalah dia kepada Rasulullah: “Ya Rasulullah! Sebenarnya kami hanya bersenda-garau dan mengobrol sebagaimana obrolan orang-orang yang bepergian jauh untuk pengisi waktu saja dalam perjalanan kami”.

Ibnu Umar berkata,”Sepertinya aku melihat dia berpegangan pada sabuk pelana unta Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam , sedangkan kedua kakinya tersandung-sandung batu sambil berkata: “Sebenarnya kami hanya bersenda-gurau dan bermain-main saja”, dalam keadaan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tidak menoleh sedikitpun kepadanya dan beliau hanya membacakan atasnya (kepadanya) ayat ini, Apakah terhadap Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?"

Lihatlah wahai saudaraku, orang yang bersenda gurau, orang yang mencandai syariat, orang yang mencadai Rasulullah shallallahu ‘laihi wa sallam dalam ayat ini, mereka telah ikut serta dalam perang tabuk, mereka bersama Rasululllah namun ternyata akibat candaannya ini mereka tidak dimaafkan, padahal betapa besar jasa mereka.

Sementara kita, apa yang telah kita perbuat untuk agama ini, apa yang telah kita lakukan untuk agama ini, sehingga kita dengan berani mencandai, meledek, dancela bagian dari syariat Islam ini?

Jika seandainya maksut bercanda anda itu bukanlah syariat memelihari jenggot, bukan syariat memakai kain / celana diatas mata kaki akan tetapi yang anda maksut adalah individunya, orangnya, fisik pelakunya, maka mungkin anda dapat terlepas dari ancaman seperti dalam ayat ini. Namun bukankah candaan anda dengan merendahkan fisik orang lain apalagi orang yang menjalankan syariat Islam ini adalah sebuah pencelaan, penghinaan / pelecehan? Lalu apakah mencela orang lain, merendahkan orang lain, menghina orang lain adalah halal? Ditambah lagi yang anda hina ini adalah orang yang ta’at menjalankan salah satu syariat Islam, bukankah ini juga merupakan beban dosa tambahan bagi pelakunya?

Mungkin jika seandainya, kita di zaman ini, atau khususnya orang-orang yang suka mencandai syariat Islam seperti jenggot atau selainnya itu hidup di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam apakah tetap mereka akan mencandai syariat ini yang ternyata bentuk fisik Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memelihara jenggot? Entah tidak tahu jika mereka ini hidup di zaman Rasulullah apakah tergolong kaum muslimin yang bersama Rasulullah ataukah justru berada di barisan kaum munafiqin.

Oleh karena itu, jika anda belum mampu menjalankan syariat Islam ini, mungkin karena kejahilan, syubhat, ataupun nafsu, maka janganlah sekali-kali mencandai syariat Islam. Mencela individunya saja dilarang yang merupakan perendahan diri seseorang, apalagi merendahkan syariat, maka tentu ini lebih berbahaya lagi. Wallahu a’alam.


Read More »