Subscribe:

Selasa, 19 April 2016

Busana Syar’i Antara Teori dan Realita


Busana Syar’i Antara Teori dan Realita
Telah kita ketahui bersama bahwasannya agama Islam ini telah mengatur segala bentuk hajat hidup manusia dari hal yang terlihatnya paling sepele sampai hal yang paling besar yaitu bertauhid kepada Allah. Salah satu diantara syariat-syariat Allah bagi seorang wanita adalah kewajiban menutup aurat, menutup perhiasannya dengan sempurna yaitu dengan berbusana syar’i.  

Dan semua ini secara tepri telah jelas ada di terpampang di dalam al-Qur’an maupun dalam penjelasan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lengkap dengan penyampaian dari para ulama dan ustadz disekitar kita. Namun ternyata dengan syariat yang jelas, hukum – hukum yang jelas dimana dengan berbagai macam kemajuan teknologi saat ini setiap manusia dengan mudah dapat mengakses ilmu, tidaklah serta ini semua membuat realita yang sesuai dengan teori.

Betapa banyak yang mengetahui kewajiban wanita untuk menutupi rambutnya dengan jilbab, namun ternyata masih saja banyak kita temua wanita yang di KTP muslimah namun enggan memakainya. Betapa banyak kita lihat wanita yang mengetahui larangan menampakkan aurat, menampakkan bentuk tubuh, namun masih saja ngeyel dengan berbagai alasan yang tidak jelas.

Bukankah ketika seorang muslim dan muslimah sampai padanya hujjah, sampai padanya dalil tentang perintah dan larangan yang jelas maka ia harus tunduk padanya? Bukankah sebesar – besar hukum yang wajib dita’ati adalah hukum Allah? Dan sewajib-wajib ketaatan terhadap hukum baik perintah maupun larangan adalah paling wajib dijalankan adalah hukum Allah?

Namun mengapa, masih saja kita temui, seorang muslimah, yang tahu mengenai sebuah perintah dan sebuah larangan dari Allah, dan ketika itu semua bertabrakan dengan adat, bertabrakan dengan budaya, bertabrakan dengan kebiasan ditempat kerja, bahkan bertabrakan dengan perintah atasan (bos) maka hukum Allah lah yang dikalahkan. Adilkan sikap seperti ini?

Wahai saudariku, siapakah yang memberi rizki kepada kita? Siapakah yang memberikan nikmat yang banyak kepada kita? Siapakah yang memberikan kesehatan kepada kita? Siapakah yang memberikan kebahagiaan kepada kita? Siapakah yang memberikan kemanan kepada kita? Dan siapakah yang memberikan segala macamnya sehingga kita bisa leluasa hidup dan bernafas seperti sekarang ini?

Tentu jika ini ditanyakan kepada kaum musyrikinpun mereka akan menjawab Allah?

Lalu mengapa, jika segalanya yang ada pada diri kita ini, segalanya yang ada dalam hidup kita sampai saat ini, detik ini adalah murni pemberian dari Allah, tetapi ketika kita di wajibkan dan dilarang terhadap suatu perkara oleh Allah justru perintah-Nya lah yang kita kalahkan dibandingkan perintah makhluk? Lalu dimana esensi ketundukan kita terhadap Allah?

Tidakkah layak bagi kita, ketika kita telah diberi banyak kenikmatan dari Allah, banyak nikmat dari Allah, maka kita mensyukurinya dengan beribadah hanya kepada-Nya, dengan selalu ta’at terhadap perintah dan menjauhi segala larangan-Nya. Lalu jika seperti ini realitanya, jika seperti ini kenyataannya, pantaskah kita menyebut diri kita sebagai Hamba Allah? Ataukah itu hanya sekedar pengakuan yang kosong dari amalan?

Wahai saudaraku muslimah, tulisan ini tidaklah bertujuan untuk menunjukkan bahwasannya kamilah yang paling benar, kamilah yang paling baik, kamilah yang paling dekat dengan surga Allah. Tulisan ini adalah sebuah teguran bagi diri kami sendiri dan sekaligus tanda cinta kami kepada semua saudariku (seiman) muslimah yang masih saja banyak menuruti pertimbangan-pertimbangan dunia ketika beramal.

Jika kita berbica untung rugi, maka tentulah keuntungan terbesar itu ketika kita bisa selamat kelak di hari dimana kita akan ditanya terhadap amalan kita, dan kita akan dapati setumpuk amalan tersebut diterima dan dapat menjadi sebab kita masuk surga. Dan tentu merupakan sebuah kerugian bagi kita semua, ketika kelak di hari dimana tidak ada yang dapat membantu kita kecuali hanya amalan kita, dan ternyata amalan itu tidak  dapat memberikan faidah apa-apa kepada kita sehingga kita terjatuh dalam ancaman neraka. Waliyyadzubillah.

Maka jika untung dan rugi pertimbangannya seperti diatas, masihkah kita sekarang mau beramal dengan pertimbangan dunia? Entah takut di cap denganberbagai laqob buruk dari masyarakat karena menjalankan ketaatan berbusana syar’i, diancam dipecat dari tempat kerja, terlihat menyelisihi banyak orang, terlihat aneh dimata manusia, dan lain sebagainya. Tentu jika pertimbangannya adalah keuntungan dan kerugian yang sebenarnya kelak di akhirat, berbagai macam kemungkinan yang mungkin terjadi diatas tentu tidaklah sesuai dengan kabikan yang mungkin kita dapat dengan beramal sholeh.

Tidakkah kita dapati dahulu kaum muslim dan muslimah di zaman jahiliyah mereka berjuang mempertahankan keimanannya ditengah-tengah badai cobaan yang begitu dahsyat. Dari berbagai bentuk siksaan fisik yang menghantarkan kepada kematian, siksaan batin, keterkucilan, kesusahan makan, di asingkan dan berbagai macam ujian yang jika kita berada di saat itu mungkin kita tidak akan mampu menahanya.

Lalu mengapa di hari ini, dimana ujian itu tidak seberat yang dialami para Rosul, pada sahabat, kita lembek, hilang mental kita untuk beramal sholeh dan dikalahkan dengan cinta dunia di dada kita? Tidak, ini bukanlah sikap seorang muslim dan muslimah. Mari kita kembali mengintrospeksi diri kita msing-masing, sudah sampai mana amanlan kita, apakah kita telah beramal selama ini dengan amalan yang dapat mendekatkan diri kita ke surga, atau justru amalan itu adalah amalan-amalan yang dapat menjauhkan kita dari surga.

Sebelum semuanya terlambat, mari kita benahi diri kita, kita benahi niat kita, kita lakukan apa yang terbaik untuk kita dari agama kita. Jangan sampai hanya karena alasan duni kita tinggalkan pahala akhirat yang begitu nyata.

Memang sekarang dunia ini nyata bagi kita, namun kelak cepat atau lambat, dunia ini hanya akan jadi cerita bagi kita semua, dan akhiratlah yang nyata. Dan di akhirat bukanlah tempat kita untuk beramal. Di akhirat adalah tempat hisab, tepat pertanggung jawaban, tempat perhitungan. Jangan sampai kita termasuk orang-orang yang ingin dikembalikan ke dunia kelak di akhirat karena ingin beramal sholih yang dulu telah kita tinggalkan. Sesungguhnya penyesalan itu hanya ada di akhir. Maka jangan sampai kita menyesal ketika penyesalan itu sudah tidak bergana lagi bagi kita. Wallahu a’lam.

Fanspage RUMAH BELANJA MUSLIM
Akun FB RUMAH BELANJA WHYLUTH