• Pendaftaran Group WA RBM Quotes

    Saat ini Rumah Belanja Muslim membuka Group WhatsApps (WA) khusus akhwat. Group ini kami beri nama “RBM Quotes”. Gabung di group inu GRATIS, siapa saja boleh gabung asal muslimah dan siap menjaga adab dan mematuhi peraturan Group.

  • Kain Shakila

    Pernah dengar kain shakila ? Atau pernah liat kain shakila ? Apakah jenis kain shakila ini adem dan bagus ? Yuk kita sedikit ulas kain shakila yang sekarang lagi banyak diminati ini.

  • Untuk Apa Medsos Kita

    Untuk apa sosmed kita ? Mungkin ini adalah pertanyaan yang tepat yang dapat kita tujukan kepada diri kita masing - masing....

  • Mengapa Anak Berbusana Syar'i Sejak Dini ?

    Melihat anak - anak yang belum baligh memakai busana syar'i bahkan ada yang di pakaikan cadar oleh orang tuanya. Mungkin ada sebagian dari kita yang bertanya - tanya. Emang harus ya anak - anak di kasih baju seperti itu ?

  • Jangan Malu Memakai Sirwal Laa Isbal

    Kalimat ini mungkin cocok untuk kita sampaikan kepada saudara - saudara kita yang ingin berhijrah mengenakan pakaian yang Islami, namun masih sungkan dan malu - malu memakainya.

Tampilkan postingan dengan label Busana syar’i. Tampilkan semua postingan

Kapan Wanita Memakai Busana Syar’i?

0 komentar
Kapan Wanita Memakai Busana Syar’i
Kapan seorang wanita di syariatkan menutup auratnya dengan sempurna menggunakan busana yang syar’i? Belum di dapati batasan yang jelas baik dari al-Qur’an maupun sunnah yang menyatakan batasan usia kapan seorang wanita / anak perempuan itu wajib menutup auratnya secara sempurna sebagaimana wanita dewasa.

Namun tentu sebuah kebaikan itu akan menjadi melekat kepada seorang anak ketika hal tersebut sudah mulai di biasakan semenjak kecil. Sebagaimana dalam perkara sholat pada anak. Anak di suruh sholat sejak usia tujuh tahu dan boleh dipukul ketika sudah pada usia sepuluh tahun. Maka disini ada proses pembiasaan.

Dan hendaknya begitupula dalam permasalahan menutup aurat. Seorang anak di latih mengenakan busana yang menutup aurat, dilatih mengenakan jilbab semenjak kecil sehingga kelak setelah baligh setelah dewasa mereka akan terbiasa dan tidak kaget ketika mengenakan busana gamis syar’i yang serga tertutup.

Dan mungkin karena kurangnya pembisaan terhadap busana syar’i kita dapati seorang wanita yang sudah dewasa sekalipun masih sangat berat untuk memakainya. Bahkan berbagai macam alasan terlontar untuk menunda kebaikan ini.

Tidak heran kita juga mendapati bertapa banyak wanita yang justru menjadikan busana gamis yang tertutup ini sebagai olok-olokan, ejekan. Mungkin salah satu dari penyebab semua itu adalah karena kurangnya pembisaan memakai baju yang benar semenjak kecil sehingga ketika besar, ketika dewasa ia melihat syariat Islam ini menjadi asing dan sesuatu yang aneh.

Maka bagi setiap orang tua, siapa saja yang mengetahui sebuah kebaikan jangan biarkan hal tersebut terluput dari amalan kita. Sehingga kebaikan itu lewat dan kelak akan menjadi asing di pandangan generasi setelah kita.

Jangan sampai karena kelalaian kita terhadap agama ini, kemalasan kita terhadap amalan sholih membuat hal tersebut menjadi asing dan aneh bagi orang-orang setelah kita.

Mari kita menanam kebaikan pada diri anak-anak kita semenja dini, sehingga harapannya ketika kelak mereka dewasa, akan menjadi bekal amal sholeh yang tidak terputus. Amiin.


Read More »

Busana Syar’i Antara Teori dan Realita

0 komentar

Busana Syar’i Antara Teori dan Realita
Telah kita ketahui bersama bahwasannya agama Islam ini telah mengatur segala bentuk hajat hidup manusia dari hal yang terlihatnya paling sepele sampai hal yang paling besar yaitu bertauhid kepada Allah. Salah satu diantara syariat-syariat Allah bagi seorang wanita adalah kewajiban menutup aurat, menutup perhiasannya dengan sempurna yaitu dengan berbusana syar’i.  

Dan semua ini secara tepri telah jelas ada di terpampang di dalam al-Qur’an maupun dalam penjelasan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lengkap dengan penyampaian dari para ulama dan ustadz disekitar kita. Namun ternyata dengan syariat yang jelas, hukum – hukum yang jelas dimana dengan berbagai macam kemajuan teknologi saat ini setiap manusia dengan mudah dapat mengakses ilmu, tidaklah serta ini semua membuat realita yang sesuai dengan teori.

Betapa banyak yang mengetahui kewajiban wanita untuk menutupi rambutnya dengan jilbab, namun ternyata masih saja banyak kita temua wanita yang di KTP muslimah namun enggan memakainya. Betapa banyak kita lihat wanita yang mengetahui larangan menampakkan aurat, menampakkan bentuk tubuh, namun masih saja ngeyel dengan berbagai alasan yang tidak jelas.

Bukankah ketika seorang muslim dan muslimah sampai padanya hujjah, sampai padanya dalil tentang perintah dan larangan yang jelas maka ia harus tunduk padanya? Bukankah sebesar – besar hukum yang wajib dita’ati adalah hukum Allah? Dan sewajib-wajib ketaatan terhadap hukum baik perintah maupun larangan adalah paling wajib dijalankan adalah hukum Allah?

Namun mengapa, masih saja kita temui, seorang muslimah, yang tahu mengenai sebuah perintah dan sebuah larangan dari Allah, dan ketika itu semua bertabrakan dengan adat, bertabrakan dengan budaya, bertabrakan dengan kebiasan ditempat kerja, bahkan bertabrakan dengan perintah atasan (bos) maka hukum Allah lah yang dikalahkan. Adilkan sikap seperti ini?

Wahai saudariku, siapakah yang memberi rizki kepada kita? Siapakah yang memberikan nikmat yang banyak kepada kita? Siapakah yang memberikan kesehatan kepada kita? Siapakah yang memberikan kebahagiaan kepada kita? Siapakah yang memberikan kemanan kepada kita? Dan siapakah yang memberikan segala macamnya sehingga kita bisa leluasa hidup dan bernafas seperti sekarang ini?

Tentu jika ini ditanyakan kepada kaum musyrikinpun mereka akan menjawab Allah?

Lalu mengapa, jika segalanya yang ada pada diri kita ini, segalanya yang ada dalam hidup kita sampai saat ini, detik ini adalah murni pemberian dari Allah, tetapi ketika kita di wajibkan dan dilarang terhadap suatu perkara oleh Allah justru perintah-Nya lah yang kita kalahkan dibandingkan perintah makhluk? Lalu dimana esensi ketundukan kita terhadap Allah?

Tidakkah layak bagi kita, ketika kita telah diberi banyak kenikmatan dari Allah, banyak nikmat dari Allah, maka kita mensyukurinya dengan beribadah hanya kepada-Nya, dengan selalu ta’at terhadap perintah dan menjauhi segala larangan-Nya. Lalu jika seperti ini realitanya, jika seperti ini kenyataannya, pantaskah kita menyebut diri kita sebagai Hamba Allah? Ataukah itu hanya sekedar pengakuan yang kosong dari amalan?

Wahai saudaraku muslimah, tulisan ini tidaklah bertujuan untuk menunjukkan bahwasannya kamilah yang paling benar, kamilah yang paling baik, kamilah yang paling dekat dengan surga Allah. Tulisan ini adalah sebuah teguran bagi diri kami sendiri dan sekaligus tanda cinta kami kepada semua saudariku (seiman) muslimah yang masih saja banyak menuruti pertimbangan-pertimbangan dunia ketika beramal.

Jika kita berbica untung rugi, maka tentulah keuntungan terbesar itu ketika kita bisa selamat kelak di hari dimana kita akan ditanya terhadap amalan kita, dan kita akan dapati setumpuk amalan tersebut diterima dan dapat menjadi sebab kita masuk surga. Dan tentu merupakan sebuah kerugian bagi kita semua, ketika kelak di hari dimana tidak ada yang dapat membantu kita kecuali hanya amalan kita, dan ternyata amalan itu tidak  dapat memberikan faidah apa-apa kepada kita sehingga kita terjatuh dalam ancaman neraka. Waliyyadzubillah.

Maka jika untung dan rugi pertimbangannya seperti diatas, masihkah kita sekarang mau beramal dengan pertimbangan dunia? Entah takut di cap denganberbagai laqob buruk dari masyarakat karena menjalankan ketaatan berbusana syar’i, diancam dipecat dari tempat kerja, terlihat menyelisihi banyak orang, terlihat aneh dimata manusia, dan lain sebagainya. Tentu jika pertimbangannya adalah keuntungan dan kerugian yang sebenarnya kelak di akhirat, berbagai macam kemungkinan yang mungkin terjadi diatas tentu tidaklah sesuai dengan kabikan yang mungkin kita dapat dengan beramal sholeh.

Tidakkah kita dapati dahulu kaum muslim dan muslimah di zaman jahiliyah mereka berjuang mempertahankan keimanannya ditengah-tengah badai cobaan yang begitu dahsyat. Dari berbagai bentuk siksaan fisik yang menghantarkan kepada kematian, siksaan batin, keterkucilan, kesusahan makan, di asingkan dan berbagai macam ujian yang jika kita berada di saat itu mungkin kita tidak akan mampu menahanya.

Lalu mengapa di hari ini, dimana ujian itu tidak seberat yang dialami para Rosul, pada sahabat, kita lembek, hilang mental kita untuk beramal sholeh dan dikalahkan dengan cinta dunia di dada kita? Tidak, ini bukanlah sikap seorang muslim dan muslimah. Mari kita kembali mengintrospeksi diri kita msing-masing, sudah sampai mana amanlan kita, apakah kita telah beramal selama ini dengan amalan yang dapat mendekatkan diri kita ke surga, atau justru amalan itu adalah amalan-amalan yang dapat menjauhkan kita dari surga.

Sebelum semuanya terlambat, mari kita benahi diri kita, kita benahi niat kita, kita lakukan apa yang terbaik untuk kita dari agama kita. Jangan sampai hanya karena alasan duni kita tinggalkan pahala akhirat yang begitu nyata.

Memang sekarang dunia ini nyata bagi kita, namun kelak cepat atau lambat, dunia ini hanya akan jadi cerita bagi kita semua, dan akhiratlah yang nyata. Dan di akhirat bukanlah tempat kita untuk beramal. Di akhirat adalah tempat hisab, tepat pertanggung jawaban, tempat perhitungan. Jangan sampai kita termasuk orang-orang yang ingin dikembalikan ke dunia kelak di akhirat karena ingin beramal sholih yang dulu telah kita tinggalkan. Sesungguhnya penyesalan itu hanya ada di akhir. Maka jangan sampai kita menyesal ketika penyesalan itu sudah tidak bergana lagi bagi kita. Wallahu a’lam.

Fanspage RUMAH BELANJA MUSLIM
Akun FB RUMAH BELANJA WHYLUTH 

Read More »

Mengenal Busana Syar’i

0 komentar

Mengenal Busana Syar’i
Mungkin ada dari sebagian kita yang masih rancu dengan istilah busana syar’i, istilah gamis syar’i atau sejenisnya yang diberi embel-embel kata syar’i. Kenapa harus diberi embel-embel syar’i ? Mengapa tidak disebutkan saja busana muslimah, atau gamis muslimah, busana muslim, atau gamis muslim dan sejenisnya. Mengapa harus diberi embel-embel syar’i? Seolah-olah ingin mengatakan bahwa busana yang lain itu tidak syar’i.

Padahal kita ketahui dalam ushul fikih hukum asal suatu perkara dunia itu adalah mubah sampai ada dalil yang mengharamkannya. Dan kita ketahui bersama tentu busana-busana yang dijual di kebanyakan pedagang digeri kita mayoritasnya adalah dari barang-barang yang halal dzatnya, bukan terbuat dari barang yang haram. Lalu apakah yang lain yang halal ini mau dihukumi haram / tidak sesuai dengan syariat Islam?

Tentu dengan istilah busana syar’i ini yang kita inginkan bukanlah mengharamkan busana dengan jenis lainnya yang berbeda. Karena memang hukum asal perkara dunia itu halal, ditambah lagi memang kebanyakan busana yang dijual tanpa embel-embel syar’i ini memang secara dzat halal. Lalu mengapa perlu penyematan istilah syar’i ini?

Sejauh yang kami ketahui mengenai istilah busana syar’i ini, adalah istilah pembeda untuk busana – busana yang modelnya layak, cocok, dan sesuai dengan syariat ketika seorang muslimah memakainya. Dan tentu disamping syarat dasar lainya seperti harus terbuat dari dzat yang halal, tidak mengandung unsur tasyabuh dengan kaum selain Islam, tidak ada gambar makhluk bernyawa dll.

Hal ini perlu dibedakan karena memang di tempat kita, di zaman kita sekarang kita dapati kebanyakan manusia, kebanyakan wanita salah membuat pemempatan busana dalam kesehariannya. Ada busana yang khusus boleh hanya dipakai di hadapan suaminya yang menampakkan aurat, yang seksi, namun ternyata oleh kabanyakan wanita di hari ini dipakai diluar rumah sehingga membuat fitnah yang besar bagi laki-laki yang melihatnya. Ada busana yang harusnya dipakai ketika di dapur, ketika akan tidur dan sejenisnya, yang tentunya tidak menutup aurat dengan baik oleh para wanita di sekitar kita dipakai untuk beraktifitas di luar rumah. Tentu ini tidaklah sesuai syariat tidaklah syar’i dalam penempatan model busana yang dipakai sehari-hari.

Maka busana syar’i ini perlu ditekankan agar setiap muslimah mengetahui mana busana yang layak dipakai di luar rumah, dan mana busana yang tidak layak di pakai diluar rumah. Dan tentu dengan ini tidaklah serta merta kita katakana busana yang terbuka itu hukumnya haram dan tidak boleh dipakai sama sekalai. Boleh muslimah memakai busan terbuka namun tentu haruslah pada tempatnya dengan mepertimbangkan situasi dan kondisi dan ketentuan syariat Islam. Wallahu a’lam.

Mau menambah koleksi busana syar’i untuk muslimah yang cocok dipakai beraktifitas diluar rumah dengan model yang formal maupun santai? Mari cek segera produknya di halaman produk di menu atas blog ini, atau kunjungi wab kami di www.RumahBelanjaMuslim.Com. Lihat produknya, cek deskripsinya, pilih warna dan ukurannya, langsung pesan segera melalui SMS / WA di 085720833878.  

Fanspage RUMAH BELANJA MUSLIM
Akun FB RUMAH BELANJA WHYLUTH 

Read More »

Kenapa Masih Enggan Berbusana Syar’i?

0 komentar
Kenapa Masih Enggan Berbusana Syar’i
Memakai busana syar’i merupakan sebuah kewajiban bagi seorang muslim dan muslimah. Ketika ia beranjak dewasa, masuk pada usia baligh, maka semua hukum – hukum syariat khususnya dalam hal ini kewajiban menutup aurat berlaku padanya. Dan usia baligh ini biasanya berkisar pada usia belasan tahun. Artinya kewajiban menutup aurat bagi seorang muslimah itu belaku dari semasa kecil setelah baligh.

Namun, ternyata walaupun secara teori kewajiban menutup aurat itu berlaku semenjak kecil bagi muslim dan muslimah, ternyata hal ini tidak serta merta orang-orang langsung menerapkannya di dalam keseharian. Kita dapati di negeri kita yang mayoritas muslim ini ternyata masih sangat banyak orang dewasa, bahkan orang-orang tua tidak menutup auratnya dengan baik. Banyak dari mereka yang kesannya seperti bangga dengan mengumbar auratnya sehingga kita dapati justru muslimah yang berbusana tertutup di cela, di ghibah, bahkan di caci.

Padahal kita juga melihat di berbagai perusahaan, tempat kerja dimana di tempat tersebut diberlakukan aturan-aturan berbusana yang tidak syar’i bahkan bisa dikatan tidak pantas, seperti harus memakai rok mini, tidak boleh berjilbab, baju ketat dan mini, harus berbusana terbuka, banyak dari wanita-wanita muslimah yang dengan mudahnya mentaati aturan tersebut hanya untuk sekedar mendapatkan balasan gaji semata.

Tetapi di sisi lain, kita juga mendapati betapa banyak wanita muslimah yang sudah terbiasa berbusana yang kurang syar’i ketika diajak berbusana syar’i masih ada yang menjawab belum siap, belum berani dan lain sebagainya. Padahal kita lihat juga fenomena diatas, ketika wanita diajak membuka aurat dengan balasan gaji banyak yang dengan sigap menyambut ajakan tersebut. Namun mengapa ketika ajakannya itu berasal dari penciptanya dengan balasan yang tidak bisa dibandingkan dengan dunia karena tentu balasan bagi ketaatan kepada Allah itu tidak lain adalah Surga namun sangat amat jarang yang menyambut ajakan tersebut dengan berbagai macam alasan.

Lalu jika keadaannya demikian, maka masih pantaskan kita berharap surga, berharap kebahagiaan, namun kita enggan menjalankan jalan-jalan yang dapat mengantarkan kita kepada surga, jalan-jalan yang mengantarkan kita kepada kebagiaan yang hakiki? Bukankah perahu itu tidak akan berjalan di daratan?

تَرْجُو النَّجَاةَ وَلَمْ تَسْلُكْ مَسَالِكَهَا
Engkau menghendaki keselamatan, sedang engkau tidak menempuh jalan-jalannya

إِنَّ السَّفِيْنَةَ لَا تَجْرِيْ عَلَى الْيَبَس
Sesungguhnya perahu tidak akan berjalan di atas daratan kering

Fanpage RUMAH BELANJA MUSLIM
Akun FB Rumah Belanja Whyluth

Read More »

Masih Malu Berbusana Syar’i?

0 komentar
Masih Malu Berbusana Syar'i
Terkadang kita dapati dalam realita saat ini, ada muslim ataupun muslimah yang malu ketika memakai busana yang syar’i. Seorang wanita malu mekai busana yang tertutup dengan berbagai macam alasan, entah takut dibilang kuper, seperti ibu-ibu, jadul, gak modis dan lain-lain. Begitu juga pada kaum prianya, kita dapati pada beberapa individu muslim yang ketika mengetahui bagaimana model pakaian yang islami dipakai seperti celana dengan panjang diatas mata kaki, atau celana yang longgar-longgar, baju yang tidak menyerupai orang kafir dll, merasa malu memakainya dan lebih memilih aneka macam pakaian yang ngetren dipakai oleh-oleh tokoh kesukaannya baik dari pemain musik, bola dan sejenisnya yang kebanyakannya non muslim.

Jadi tidak heran jika dalam keadaan ini orang Islam yang menerapkan aturan agamanya terlihat asing dan aneh di masyarakat. Keanehan ini bukanlah karena syariat Islamnya yang aneh, namun karena kebanyakan masyarakat yang sudah terbiasa dengan kebiasaan – kebiasaan yang aneh yang banyaknya berasal dari kaum non muslim, dari gaya hidup, gaya berpenampilan, bahkan sampai kepada permasalahan keyakinan.

Walau begitu, ternyata ada saja sebagian orang yang selalu mencibir, mencaci orang-orang Islam yang hidup dengan aturan agamanya. Di gambarkan pada orang tersebut berbagai macam gambaran-gambaran yang sama sekali tidak layak. Dilayangkan berbagai macam cibiran-cibiran, atau statement-statement miring padanya. Hingga agama Islam ini benar-benar terasa asing dan aneh bagi kebanyakan manusia.

Namun ternyata keadaan seperti ini telah dikabarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam. Bahwasannya Islam di akhir zaman akan terlihat asing, dan ternyata keberuntungan itu berada pada orang-orang yang asing ini. Dan sungguh jika kita membaca kabar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ini, kita akan dapatkan motivasi yang sangat besar untuk tetap istiqomah mnjalankan agama Islam ditengah keterasingan ditengah berbagai macam kerusakan yang ada.

بَدَأَ الْإِسْلَامُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ

“Islam muncul dalam keadaan asing, dan ia akan kembali dalam keadaan asing, maka beruntunglah orang-orang yang terasingkan itu.” (HR. Muslim)

Maka jika kita mengaku seorang Muslim, setelah mengetahu hadits tersebut diatas, hendaknya mampu mengalahkan perasaan-perasaan malu yang datangnya dari was-was syaiton ini. Dan mari sekarang juga kita amalkan agama kita dalam keseharian kita, walaupun itu harus menuai penentangan, penyelisihan terhadap kebanyakan manusia. Karena jika kita telah beramal dengan ikhlas hanya karena Allah dan sesuai dengan apa yang diperintahkan, maka insyaa Allah penyelisihan kita terhadap kebanyakan manusia yang bermaksiat ini bernilai pahala yang kelak akan kita tuai buahnya di akhirat, amiin.

Fanpage RUMAH BELANJA MUSLIM
Akun FB RUMAH BELANJA WHYLUTH

Read More »

Busana Syar’i Itu Menutupi Bukan Menghiasi

0 komentar
Busana Syar’i Itu Menutupi Bukan Menghiasi
Memakai busana syar’i khususnya bagi seorang muslimah, belakangan ini sudah menjadi hal yang mungkin bisa dikatakan lagi ngetren. Dan alhamdulillah ini adalah hal yang perlu disyukuri, karena saat ini sudah semakin banyak muslimah yang mulai mengenakan busana syar’i dalam kesehariannya.

Namun, karena mungkin awal keinginan memakai busana syar’i ini karena ingin ikut tren, maka banyak yang lalai akan tujuan memakai busana syar’i bagi muslimah. Sehingga kita dapati banyak yang mengakunya telah berbusana syar’i namun ternyata pada busana yang dipakainya masih banyak terdapat pernak-pernik hiasan yang menempel dengan berbagai macam model dan corak warnanya.

Padahal jika kita tengok lagi kebelakang, kita dapati di dalam syariat Islam ini seorang muslimah di wajibkan mengenakan busana / jilbab itu tujuannya adalah untuk menutupi auratnya, menutupi perhiasannya. Sampai syariat Islam ini juga melarang melembutkan suara ketika berbicara kepada laki-laki yang bukan mahromnya, melarang muslimah memakai wangi-wangian yang mencolok ketika di tempat umum, dan lain sebagainya. Tentu larangan-larangan ini bukanlah hal yang sia-sia dan tidak ada maslahat yang ingin dicapai.

Kita dapati tujuan dari larangan-larangan di dalam Islam ini ternyata adalah untuk melindungi seorang muslim dan muslimah dari berbagai macam fitnah yang mungkin timbul pada keduanya. Karena sebagaimana yang pernah di sebutkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwasannya wanita itu adalah aurat sehingga ketika ia keluar rumah syaiton akan menghiasinya agar terjadi fitnah, maka hal-hal yang berkaitan dengan mempercantik diri, berhias, memperindah, seperti yang kami sebutkan diatas di larang dalam Islam.

Jika kita lihat, semua perkara larangan bagi muslimah diatas maka kita dapati antara satu dengan yang lainnya saling berkaitan. Seperti larangan tabarruj misalnya, tentu ini sangat berkaitan erat dengan larangan memakai wangi-wangian, larangan melembutkan suara, larangan berkholwat, dan lain sebagainya. Mungkin jika diteliti maka kesemua hal-hal yang dilarang bagi perempuan ini memiliki korelasi yang kuat dengan perbuatan maksiat yang mungkin timbul, seperti zina dan sejenisnya.

Semakin seorang muslimah mampu menahan dirinya dari perbuatan-perbuatan terlarang baginya di dalam Islam, maka akan semakin jauh peluang dirinya untuk berbuat maksiat. Dan sebaliknya, semakin banyak seorang muslimah melanggar larangan – larangan Allah, maka tentu peluang bermaksiatnyapun semakain banyak. Karena dengan ia melanggar larangan Allah saja itu sudah termasuk maksiat kepada Allah ta’ala, dan dari satu maksiat ini dapat membuahkan maksiat lainnya yang lebih besar, dan bagitu seterusnya.

Oleh karena itu, mari kita lihat kembali apa tujuan kita berbusana syar’i. Apakah kita berbusana syar’i hanya karena ikut-ikutan tren karena sedang ramai diperbincangkan, atau memang kita berbusana syar’i itu benar-benar ingin meraih keridhoan Allah dan meningkatkan taqwa kita kepada Allah.

Jika kita berbusana syar’i ingin meraih keridhoan Allah, maka tentu busana yang kita pakai hendaknya sesuai dengan apa yang telah di persyaratkan dalam Islam. Jangan sampai kita sebuat busana sebagai busana syar’i namun ternyata tidak bersesuaikan dengan tujuan dari berbusana tersebut.

Perlu diingtkan kembali bagi setiap kita, bahwasannya berbusana syar’i itu tujuannya adalah untuk menutupi dan bukan menghiasi. Maka jika dalam busana kita adalah unsur hiasan, maka tentu ini bukanlah hakikat dari menutupi perhiasan muslimah, menutupi kecantikannnya, dan justru sebaliknya, ia tampakkan perhiasannya, sehingga dirinya tampak lebih menarik dan dalam keadaan ini berarti ia dhohirnya menutup tapi hakikatnya menampakkan. Wallahu a’lam.

Fanpage RUMAH BELANJA MUSLIM
Akun FB RUMAH BELANJA WHYLUTH

Read More »

Dampak Positif Berbusana Syar’i Bagian 2

0 komentar
Berbusana Syar’i
Pada kesempatan sebelumnya kita telah sedikit mengulas dampak positif berbusana syar’i dari segi agama seorang muslim. Maka pada kesempatan kali ini kami akan sedikit membahas dampak positif berbusana syar’i yang lain dari segi dampak terhadap dunia seorang muslim. Diantara dampak positif berbusana muslimah syar’i dalam hal dunianya adalah sebagai berikut,

ü  Menjadi Sarana Pendidikan Anak

Pendidikan yang paling besar pengaruhnya terhadap anak adalah pendidikan ketika di rumahnya, ketika bersama dengan orang tuanya. Karena memang orang yang paling sering berinteraksi dengan anak adalah orang tua atau orang-orang disekitarnya ketika di lingkungan rumah. Maka dengan orang tua terbiasa mengenakan busana syar’i dalam kesehariannya ini dapat menjadi pendidikan yang sangat efektif bagi anak untuk kelak mau membiasakan diri juga berbusana syar’i.

ü  Memperbaiki Mental dan Akhlak Seorang Muslim

Sebagaimana ketika seorang wanita mengenakan busana terbuka, bertabarruj dapat merusak mental dan akhlak seorang muslim maka dengan berbusana syar’i yang tertutup ini dapat menjadi salah satu upaya memperbaikin mental dan akhlak seorang muslim. Dengan seorang muslimah mengenakan busana syar’i maka hal ini dapat membantu seorang pria muslim menjaga pandangannya, menjaga hatinya dari bisikan – bisikan syaiton berupa syahwat maupun yang lainnya. Dengan seorang pria muslim dapat lebih menjaga pandangannya, menjaga dirinya dari berbagai macam syahwat maka ini dapat lebih membersihkan hatinya yang berakhir pada perbaikan mental dan akhlak baginya.

ü  Menjaga Dari Zina

Telah kita ketahui bersama bahwasannya zina itu banyak macamnya. Mulai dari zinah mata hingga zinah yang dilakukan antara kedua orang manusia secara langsung. Maka dengan seorang muslimah mengenakan busana yang syar’i, minimalnya ia telah mengurangi seorang pria untuk berzina mata yang juga mengurangi peluang bagi muslim dan muslimah untuk melakukan zina perbuatan.

Bersambung Insyaa Allah ...

Fanpage RUMAH BELANJA MUSLIM
Akun FB RUMAH BELANJA WHYLUTH

Read More »

Dimana Muslimah Harus Memakai Busana Syar’i?

0 komentar
Dimana Muslimah Harus Memakai Busana Syar’i
Dimana Muslimah Harus Memakai Busana Syar’i
Dimanakah seorang muslimah harus memakai busana syar’inya? Apakah hanya ketika ia akan mendatangi majlis ta’lim saja? Ketika kemasjid? Ketika bersama teman sepengajian? Ini adalah pertanyaan yang mungkin jarang ditanyaakan namun penting untuk dibahas sebagai bentuk nasehat kepada sesama muslim dan muslimah.

Mengenai kapan seorang muslimah memakai busana syar’i ini kami angkat dari fenomena di sekitar yang ternyata masih cukup banyak dari para wanita muslimah yang beranggapan bahwasannya memakai busana syar’i, memakai cadar itu hanya ketika menghadiri masjlis taklim atau hanya ketika bersama-sama teman sepengajian saja. Sementara diluar itu seolah-olah wanita muslimah itu bebas mengenakan busana apa saja yang sesuai dengan kebiasaan pada masing - masing tempat.

Akhirnya dengan pemahaman yang seperti ini banyak kita dapati para wanita muslimah yang berbusana syar’i ketika kekantor, ketika bekerja, ketika menghadiri acara-acara umum diluar rumah mereka mendapati kritikan bahkan celaan, dari mulai perkataan sindiran halus sampai yang paling kasarnya tentang pelarangan berbusana syar’i baik dikantor atau ditempat lain.

Sungguh ini fenomena yang cukup aneh yang hinggap di keyakinan para wanita disekitar kita. Kebanyakan mereka beranggapan berbusana syar’i yang tertutup itu ya hanya ketika pengajian saja atau ketika bersama-teman-teman ngaji, sementara ketika kerja atau ditempat lainnya ya busananya harus menyesuaikan kebiasaan disana.

Padahal jika kita tengok kembali mengenai kapan dan dimana seorang muslimah itu harus mengenakan busana syar’i yang menutupi sesluruh tubuhnya, maka kita akan dapati syariat itu berlaku kapanpun dimanapun ketika muslimah itu berada di luar rumah / dimana ia berada di tempat yang di sana ada orang-orang non mahramnya.

Berbusana syar’i ini dimaklumi selain merupakan perintah Allah ta’ala maka tujuan diperintahkannya adalah untuk menjaga kehormatan muslimah, menjaga kemuliaan muslimah, menjaga aurat / perhiasan muslimah agar tidak terlihat oleh orang-orang yang tidak berhak melihatnya. Dan dengan ini maka kehirmatan dan keselamatan seorang muslim dapat lebih terjaga. Bagi muslimah yang berbusana syar’i ketika diluar rumah ia akan lebih aman dari berbagai macam fitnah yang mungkin timbul, sedangkan bagi para laki-laki muslim maka akan lebih terbantu baginya untuk dapat menundukkan pandangan dan menjaga syahwatnya terhadap hal-hal yang haram baginya, dan juga bagi anak-anak muslim, mereka akan mendapat pendidikan secara tidak langsung melalui kebiasaan berbusana syar’i orang-orang disekitaarnya yang harapannya kelak mereka dapat lebih baik dalam menerapkan syariat Islam ini.

Nah, jika sekarang para wanita berbusana syar’i kalau hanya ketika pengajian saja, lalu faidahnya apa? Tentu faidahnya sangat sempit. Karena kebanyakan di tempat pengajian itu orang-orang nya lebih dapat menjaga syahwatnya, menjaga pandangannya, dan mata tidak jelalatan mungkin karena sungkan dengan yang lain atau memang benar-benar takut kepada Allah.

Sementara ketika wanita muslimah diluar rumah, dikantor atau ditempat-tempat yang orang tidak akan sungkan-sungkan berbuat maksiat disana atau bahkan tempat yang di dalamnya banyak maksiat entah berupa ikhtilah (campur baur lawan jenis) atau yang lainnya maka harusnya ini lebih ditekankan lagi baginya untuk berbusana syar’i yang sangat tertutup. Karena yang hadir ditempat itu berbagai macam manusia, dari orang-orang yang di dalam hatinya berpenyakit ringan sampai yang sudah parah atau bahkan sudah mati.

Maka dalam kondisi ini seharuanya lebih ditekankan lagi bagi seorang muslimah untuk berbusana syar’i menutupi seluruh tubuhnya yang wajib ditutup. Dan sebenarnya jika kita mau jujur dengan berbusana syar’i ini tidak akan mengaganggu aktifitas muslimah / aktifitas pekerjaan muslimah.

Adapun jika ada yang beranggapan dengan berbusana syar’i ini akan menurunkan produktifitas kerja muslimah ini hanyalah perkiraan saja dan mungkin kalaupun benar ini hanyalah efek dari proses transisi perbuahan busana yang mungkin setiap muslimah memerlukan proses penyesuaian diri. Setelah ia terbiasa berbusana syar’i dimanapun ia berada, maka tentunya hal ini tidak akan menjadi hambatan baginya untuk berkarya.

Oleh karena itu, bagi anda yang menjadi seorang atasan, pemimpin disebuat lembaga profi maupun non profit, anda sebagai petinggi di sebuah perusahaan, dan anda dalam keadaan sebagai seorang Muslim atau Muslimah, hendaknya jangan pernah buat kebijakan yang menyudutkan syariat Islam, jangan sekali-kali buat kebijakan pelarangan bagi muslimah yang bekerja di perusahaan anda untuk berbusana syar’i. Karena perintah berbusana syar’i ini datangnya dari Allah ta’ala, ketika anda melarang karyawan anda berbusana syar’i berarti anda ingin melawan kebijakan Allah Rabb Anda dan Rabb seluruh alam. Maka pantaskan anda berbuat demikian? Wallahu a’alam.

Fanpage RUMAH BELANJA MUSLIM
Akun FB RUMAH BELANJA WHYLUTH

Read More »

Dampak Positif Berbusana Syar’i

0 komentar
Dampak Positif Berbusana Syar’i
Setelah sebelumnya telah sedikit di ulas mengenai dampak negatif busana terbuka bagi muslimah, maka penting juga kiranya kita sedikit ulas beberapa dampak positif mengenakan busana syar’i yang serba tertutup. Mudah-mudahan dengan sedikit melihat beberapa dampak negatif berbusana terbuka dan membandingkan dengan dampak positif berbusana syar’i tertutup dapat menjadi motivasi bagi kaum muslimah untuk kembali kepada aturan agamanya yang awal dan meninggalkan apa-apa yang berasal dari budaya selain Islam dalam hal berbusana dan selainnya.

Untuk lebih memudahkan mengulas beberapa dampak positif berbusana syar’i, maka berikut ulasannya kami sampaikan dalam beberapa point dibawah ini.

Dampak Bagi Agama

Yang pertama penting kita ulas mengenai dampak positif berbusana syar’i adalah dampak terhadap agama. Diantara dampak positif pada agama seseorang yang mengenakan busana syar’i diantaranya sebagai berikut,

ü  Lebih mendekatkan diri kepada Allah

Mengenakan busana syar’i bagi muslimah merupakan salah satu bentuk kataatan kepada Allah, salah satu bentuk implementasi kataqwaan kita, sehingga dengan semakin banyak kita melakukan ketaatan kepada Allah, semakin kita mengimplementasikan taqwa kita kepada Allah maka niscaya kita akan semakin dekat kepada-Nya.

Dan amalan berbusana syar’i ini merupakan amalan ketaatan yang dapat menjadi wasilah seseorang itu mendekatkan diri kepada Allah. Allah ta’ala berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kalian kepada Allah, dan carilah wasilah untuk mendekatkan diri kepada-Nya” (QS. Al Maa-idah : 35).

Terkait tafsir ayat di atas, Ibnu ‘Abbas, Mujahid, ‘Athaa, dan ulama lainnya mengatakan, maksud ‘Wasilah’ adalah al qurbah, kedekatan dengan Allah. Qatadah mengatakan, “ ‘Carilah wasilah’ artinya adalah : Dekatkan diri kalian kepada Allah dengan mentaati-Nya dan mengerjakan amalan yang Allah ridhai” (Tafsir Al Qur’anul ‘Azhim, 2/68, disini).

ü  Mengikat kataqwaan

Dengan terbiasa mengenakan busana yang syar’i bagi muslimah, maka hal ini dapat mengikat ketaqwaan seorang muslim. Bagaimana tidak, ketika seorang mengenakan busana serba tertutup yang syar’i ditambah lagi mengenakan cadar, ketika terbisik dihatinya untuk berbuat maksiat, untuk berbuat zina, untuk berkholwat dan lainnya maka ia akan sungkan dan lebih menjaga dirinya terhadap perbuatan-perbuatan tercela itu. Dan inilah salah satu bentuk busana taqwa yang dapat mengikat seseorang dalam ketaatan dan menjaga diri dari perbuatan maksiat.

ü  Salah satu bentuk pakaian terbaik

Menutup aurat dengan busana yang syar’i merupakan salah satu bentuk pakain yang lebih baik. Allah ta’ala berfirman,
وَلِبَاسُ التَّقْوَىٰ ذَٰلِكَ خَيْرٌ

“Pakaian ketakwaan itu lebih baik.” (QS. Al-A’Raf : 26)

Ada beberapa riwayat dari ulama salaf tentang makna pakaian ketakwaan di dalam ayat ini. Ibnul Anbari rahimahullah berkata, “Pakaian takwa adalah rasa malu.” Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata, “Yang dimaksud adalah amalan saleh.” Diriwayatkan pula dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata, “Rupa yang baik pada wajah.” Ada pula yang berkata, “Apa yang diajarkan oleh Allah Subhanahu wata’ala dan menjadi hidayah-Nya.” Urwah bin Zubair rahimahullah berkata, “Yang dimaksud adalah rasa takut kepada Allah Subhanahu wata’ala.” Abdurrahman bin Zaid bin Aslam rahimahullah berkata, “Ia bertakwa kepada Allah Subhanahu wata’ala lalu menutup auratnya, itulah pakaian ketakwaan.” Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Semua pendapat ini berdekatan maknanya.” (Tafsir Ibnu Katsir, 6/279, Disini)

ü  Mendekatkan diri ke Surga

Menganakan busana syar’i yang sesuai dengan tuntunan dan syarat-syarat di dalam Islam merupakan salah satu amalan ketaatan kepada Allah, amalan yang disyariatkan Allah, amalan yang wajib dikerjakan oleh seorang muslim dan muslimah. Maka dengan beramal ketaatan, dengan mengamalkan syariat Allah ini dapat menjadi salah satu amalan yang dapat mendekatkan dirinya ke Surga Allah ta’ala.

ü  Menjaga Perilaku

Ketika seorang muslimah keluar rumah menutup auratnya dengan benar menggunakan busana syar’i, maka tentu ia akan lebih memperhatikan tingkah lakunya, akhlaknya dalam bermuamalah dengan orang lain. Ia akan lebih sungkan untuk berbuat kurang adab, ia akan lebih perhatian terhadap bahasanya, ia akan lebih memperhatikan pergaulannya dst.

ü  Lepas dari Tasyabuh dengan non Muslim

Seorang muslimah yang mengenakan busana syar’i maka ia telah mengenakan salah satu bagian dari syiar Islam dan dengan ini maka ia telah terlepas dari berbagai macam bentuk tasyabuh berbusananya / kebiasaannya orang-orang non muslim.

Kita lihat di zaman sekarang ini, begitu banyak seorang yang katanya muslim dan muslimah, namun lebih bangga berbusana mengikuti gaya busana non muslim, gaya hidup non muslim. Namun ketika seorang muslimah yang mengenakan busana syar’i serba tertutup dan memakai cadar maka dikatakan padanya itu kan budaya Arab, kan kita bukan orang Arab, kenapa harus pakai busana Arab?

Sungguh sebuah keanehan, berbusana gaya non muslim yang terbuka, menampakkan aurat baik langsung maupun tidak langsung, bertabarrruj dan selainnya dinaggap biasa, dianggap tidak masalah, mungkin juga dianggap baik karena sesuai dengan budaya negeri, namun ketika berbusaya yang syar’i menutup seluruh aurat dikatakan budaya Arab yang langsung mereka tolak mentah-mentah.

Padahal menutup aurat dengan busana syar’i ini bukanlah budaya Arab. Karena ini terdapat di dalam syariat Islam. Dan seandainya ini budaya arab, maka bukankan Islam ini datangnya dari negeri Arab? Kenapa anda lebih bangga mengenakan busana Barat dimana disana bukan negeri Islam dan bahkan busananya bertentangan dengan Islam, sementara dengan negeri Islam anda anti? Sungguh ini adalah sebuah ironi, yang hendaknya setiap kita dapat merenungi benarkan sikap seperti ini. Wallahu a’lam.

Bersambung, Insyaa Allah ...

Like fanpage kami di RUMAH BELANJA MUSLIM
Akun FB RUMAH BELANJA WHYLUTH

Read More »