• Pendaftaran Group WA RBM Quotes

    Saat ini Rumah Belanja Muslim membuka Group WhatsApps (WA) khusus akhwat. Group ini kami beri nama “RBM Quotes”. Gabung di group inu GRATIS, siapa saja boleh gabung asal muslimah dan siap menjaga adab dan mematuhi peraturan Group.

  • Kain Shakila

    Pernah dengar kain shakila ? Atau pernah liat kain shakila ? Apakah jenis kain shakila ini adem dan bagus ? Yuk kita sedikit ulas kain shakila yang sekarang lagi banyak diminati ini.

  • Untuk Apa Medsos Kita

    Untuk apa sosmed kita ? Mungkin ini adalah pertanyaan yang tepat yang dapat kita tujukan kepada diri kita masing - masing....

  • Mengapa Anak Berbusana Syar'i Sejak Dini ?

    Melihat anak - anak yang belum baligh memakai busana syar'i bahkan ada yang di pakaikan cadar oleh orang tuanya. Mungkin ada sebagian dari kita yang bertanya - tanya. Emang harus ya anak - anak di kasih baju seperti itu ?

  • Jangan Malu Memakai Sirwal Laa Isbal

    Kalimat ini mungkin cocok untuk kita sampaikan kepada saudara - saudara kita yang ingin berhijrah mengenakan pakaian yang Islami, namun masih sungkan dan malu - malu memakainya.

Tampilkan postingan dengan label perayaan tahun baru. Tampilkan semua postingan

Makna Islam di Akhir Tahun Masehi

0 komentar
Makna Islam di Akhir Tahun Masehi
Makna Islam di Akhir Tahun Masehi
Makna Islam Secara Istilah
Makna Islam Secara Istilah
Di akhir tahun masehi ini, mungkin ada baiknya kita coba memurojaah kembali makna Islam yang kita beragama dengannya.

Karena diantara fenomena yang menyedihkan di akhir tahun masehi ini, yang notabene itu adalah penanggalannya orang - orang non muslim. Begitu banyak dari umat muslim yang merayakannya, menghadiri acara kemeriahannya, mengikuti pesta pora dan menghambur - hamburkan harta. 

Sebenarnya apa sih yang di maksut dengan Islam ? Yaitu Islam yang kita anut sekarang, Islam yang di bawa oleh Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam ? 

Mungkin pertanyaan ini bisa menjadi titik tolak bagi kita untuk merefresh kembali pemahaman kita terhadap agama. 

Karena jika kita memahami Islam, apa konsekwensi menjadi seorang muslim, maka kita akan mempu memilah milah dalam bersikap. Dan tidak terbawa hanyut oleh berbagai macam hal yang melalaikan yang dapat merusak akidah kita. 

Lalu apa sih makna Islam itu ? 

Secara bahasa Islam itu memiliki makna al istislam / pasrah. 

Sedangkan secara Istilah, ada sebuah definisi yang sangat bagus yang di sebutkan Ulama. Di sebutkan bahwasannya makna Islam adalah,

الإسلام هو الاستسلام لله بالتوحيد والانقياد له بالطاعة ، والبراءة من الشرك وأَهله

"Islam adalah pasrah kepada Allah dengan Bertauhid, Tunduk kepada-Nya dengan mentaati-Nya, dan Berlepas diri dari Kesyirikan dan Pelakunya."

Jadi dari sini bisa kita lihat bahwasannya seorang yang ber Islam itu tidak cukup hanya mentauhidkan Allah saja, namun ia juga harus Berlepas diri dari kesyirikan dan PELAKUNYA

Perayaan Akhir Tahun Masehi

Menjelang akhir tahun sekarang ini, banyak perayaan perayaan kaum non muslim, khususnya perayaan natal dan tahun baru nya orang Nashrani. 

Orang - orang nasrani ini dahulu di zaman Nabi Isa 'alaihis salam adalah muslimin. Namun semenjak di utusnya Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam dan mereka tidak beriman kepada agama yang di bawa Nabi Muhammad, maka mereka bukan lagi menjadi Muslimin. 

Bagitu juga orang nasrani di zaman sekarang ini, mereka bukan Muslim, bukan bagian Islam dan mereka adalah orang kafir yang telah berbuat kesyirikan yang sangat besar. 

Allah ta'ala berfirman di dalam al-Quran, 

وَقَالُوا اتَّخَذَ الرَّحْمَنُ وَلَدًا (88) لَقَدْ جِئْتُمْ شَيْئًا إِدًّا (89) تَكَادُ السَّمَوَاتُ يَتَفَطَّرْنَ مِنْهُ وَتَنْشَقُّ الْأَرْضُ وَتَخِرُّ الْجِبَالُ هَدًّا (90) أَنْ دَعَوْا لِلرَّحْمَنِ وَلَدًا (91) وَمَا يَنْبَغِي لِلرَّحْمَنِ أَنْ يَتَّخِذَ وَلَدًا (92)

Dan mereka berkata: “Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak.” Sesungguhnya kamu telah mendatangkan sesuatu perkara yang sangat mungkar, hampir-hampir langit pecah karena ucapan itu, dan bumi belah, dan gunung-gunung runtuh, karena mereka menda’wakan Allah Yang Maha Pemurah mempunyai anak. Dan tidak layak bagi Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak.” (QS. Maryam: 88-92)

Jika sudah jelas bagi kita betapa murkanya Allah ta'ala terhadap persaksian orang - orang kafir yang menyatakan Allah itu memiliki anak, Allah itu satu dari yang tiga. Maka sebuah konsekwensi kita sebagai seorang muslim untuk menginkarinya, untuk berlepas diri dari kesyirikan tersebut, dan berlepas diri dari pelakunya

Menjadi sebuah renungan bagi kita semua di akhir tahun masehi ini. Sudahkah kita menjalankan agama kita ini sesuai dengan apa yang di inginkan agama kita ? 

Padahal agama kita memerintahkan kepada kita untuk berlepas diri dari kesyirikan dan para pelakunya. 

Sementara ada dari sebagian kita, bahkan mungkin banyak dari kita justru ikut andil dalam acara - acara perayaan orang - orang kafir, orang - orang pelaku kesyirikan yang hampir hampir langir pecah, bumi terbelah dan gunung - gunung runtuh akibat ucapan mereka (orang kafir tsb). 

Lalu layakkah bagi muslim untuk ikut - ikutan turun ke jalan, memeriahkan acara tahun baru, natal dan sebagainya ? 

Pantaskan muslim bersama - sama orang kafir merayakan perayaan orang kafir, bersenang - senang dalam keadaan Allah ta'ala tidak meridhoi keyakinan orang non muslim tersebut ? 

Jika muslim mengingkari agama orang kafir, maka apa yang kita ingkari itu hendaknya kita jauhi. Bukan kita dekati apalagi kita ikuti. 

Karena agama yang benar di sisi Allah ta''ala hanya satu yaitu Islam. Allah ta'ala berfirman, 

إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ

“Agama yang diterima di sisi Allah hanyalah Islam” (QS. Ali Imran: 19)

Maka mari kita ber Islam dengan apa yang Alla ta'ala inginkan dalam ke Islaman kita. Hendaknya kita menginkari apa yang tidak sesuai dengan Islam, kita menjauhi perkara mungkar, kesyirikan, beserta para pelakunya. 

Semoga Allah ta'ala memudahkan kita untuk berjalan menuju jalan-Nya yang lurus. Semoga Allah ta'ala selalu memberikan dan melimpahkan hidayah kepada kita semua. Amiin. 

Abu Mumtazah 
www.RumahBelanjaMuslim.Blogspot.Com

Read More »

Natal Tahun Baru Dan Toleransi

0 komentar
Natal Tahun Baru Dan Toleransi
Kata toleransi ini selalu berulang hampir disetiap waktu khususnya pada saat menjelang acara-acara perayaan umat non muslim. Seperti saat ini, mendekati waktu perayaan natal dan tahun baru nya umat kristiani. Kata toleransi ini banyak bertebaran di berbagai media masa dan medsos yang ada. Namun terkadang kita dapati penggunaan kata toleransi ini disalah artikan oleh sebagian orang untuk memojokkan umat Islam yang konsisten berpegang teguh dengan keyakinan di dalam Agamanya.

Mari kita tengok kembali, sebenarnya apa yang dimaksut dengan kata toleransi, apa yang diinginkan pada kata ini dan bagaimana kaitannya dengan agama kita. Jika dilihat dari definisinya maka makna toleransi adalah membiarkan orang lain berpendapat lain, melakukan hal yang tidak sependapat dengan kita, tanpa kita ganggu ataupun intimidasi. istilah dalam konteks sosial, budaya dan agama yang berarti sikap dan perbuatan yang melarang adanya diskriminasi terhadap kelompok-kelompok yang berbeda atau tidak dapat diterima oleh mayoritas dalam suatu masyarakat. (Wikipedia.Org) Di dalam KBBI juga disebutkan salah satu arti dari kata toleransi adalah batas ukur untuk penambahan atau pengurangan yang masih diperbolehkan.  

Dari sini maka kita dapati toleransi itu melarang adanya diskriminasi dan pemaksaan terhadap suatu pendapat atau keyakinan walaupun itu mayoritas. Dan toleransi itu bukan berarti ikut-ikutan terhadap apa yang diyakini orang lain khususnya dalam permsalahan agama. Karena pada hakikatnya setiap agama memiliki akidah dan kepercayaannya masing-masing yang tiap-tiap individu tidak boleh memaksakan keyakinan satu dengan yang lainnya.

Tentu secara sederhana dapat kita pahami, bahwasannya toleransi itu tidak mengharuskan partisipasi. Kita mentoleransi orang lain melakukan apa yang mereka yakini, maka bukan berarti otomatis kita harus berpartisipasi pada apa yang mereka kerjakan.

Ketika umat nasrani merayakan Natal, Tahun Baru dan sejenisnya, kita mentoleransi mereka dengan tidak mengganggunya apalagi sampai melakukan pengeboman atau menteror. Begitu pula umat agama lainnya, ketika mereka merayakan hari raya mereka, kita mentoleransinya dengan tidak menganggunya, tidak membuat kericuhan, keributan dan ketidak amanan.

Namun toleransi disini bukan berarti kita ikur serta dalam perayaan ataupun ikut bersuka cita di dalam acara mereka. Karena Islam memiliki akidah tersendiri yang tidak boleh di campur adukan dengan kayakinan dari agama lain. Jika seandainya ketika acara hari raya umat lain seperti kriten atau selainnya umat Islam ikut bersuka cita menyambutnya, mengucapkan selamat kepadanya, mendukung, dan memeriahkannya, maka tentu ini dapat berakibat pada pencapur adukan antar agama. Padahal agama Islam berlepas diri dari agama-agama Lain, karena Agama yang diterima di sisi Allah adalah hanya Islam. Sementara jika kita ikut andil di dalam acara perayaan agama lain maka seolah-olah kita tidak yakin akan kebenaran Islam, bahwasannya Agama Islamlah satu-satunya agama yang diterima di sisi Allah.

إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ

Agama yang diterima di sisi Allah hanyalah Islam” (QS. Ali Imran: 19)

Allah ta’ala juga berfirman,

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآَخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi” (QS. Ali Imran: 85)

Jika kita ikut-ikutan dalam kegiatan dan acara-acara agama lain, seolah olah kita tidak berlepas diri dari agama yang tidak di ridhoi, dari agama yang tidak diterima Allah. Padahal jelas-jelas jika Allah membenci sesuatu, maka tentu kita harus menjauhinya, dan membencinya tanpa meninggalkan berbuat adil terhadap mereka. Dan berbuat adil bukan berarti mencapur adukan keyakinan beragama sehingga seperti tidak ada batas keyakinan akidah Islam dengan akidah yang lainnya. Wallahu a’lam.

NB : Jika ada kesalahan, mohon dikokoreksi.

Fanpage RUMAH BELANJA MUSLIM
Akun FB Rumah Belanja Whyluth

Read More »

Nasihat Perayaan Tahun Baru

0 komentar
Telah banyak tulisan-tulisan mengenai berbagai macam bencana, kemungkaran, kerusakan dari perayaan tahun baru masehi. Dan perayaan ini sudah merupakan kebiasaan yang mengakar dan membudaya di mayoritas masyarakat kita bahkan yang beragama Islam sekalipun dan kebanyakan dari mereka adalah dari kalangan remaja muda mudi. 

Perayaan tahun baru
Maka perbuatan perayaan yang tidak ada sumbernya dari Islam yaitu perayaan tahun baru masehi ini bahkan merupakan tasyabuh kepada orang kafir, adalah suatu kemungkaran dan perbuatan maksiat kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Di tambah lagi, di dalam acara maksiat ini memberikan konsekwensi kemungkaran-kemungkaran yang lainnya yang jelas-jelas ini adalah pelanggaran syariat, seperti campur baur atau ikhtilat, zina, pemborosan, musik, dan masih banyak lainnya.

Apakah kaum muslimin ini belum cukup dengan agama Islam yang telah sempurna ini?? Sehingga harus mengikuti ajaran dari Agama lain, harus mengikuti kebiasaan dari Agama lain selain Islam. Padahal Allah subhanahu wa ta’ala telah berfirman di dalam al-Qur’an :

“Pada hari ini telah Kusempurnakan agama kalian untuk kalian, dan telah Ku-cukupkan nikmat-Ku kepada kalian, dan telah Ku-ridhai Islam sebagai agama kalian.” [Al-Mâ`idah: 3].

Dan dalam ayat yang lain :

“Barangsiapa mencari (agama) selain agama Islam, sekali-kali tidaklah (agama itu) akan diterima darinya, dan di akhirat dia termasuk orang-orang yang rugi.” [Âli ‘Imrân: 85]

Dan ingatlah wahai saudara – saudaraku perkataan dari Bilal bin Sa'd rahimahullah, saat anda sedang bermaksiat, "Jangan engkau melihat pada kecilnya dosa, tetapi lihatlah pada agungnya Dzat yang engkau maksiati".

Dan ingatlah wahai saudaraku, ketika kita semua sedang bermaksiat, sementara kita dalam keadaan tahu bahwa hal ini adalah kemaksiatan, pada hakikatnya pada saat itu kita tidak menghamba kepada Allah, namun menghamba kepada hawa nafsu kita. Apakah hal ini tidak berbahaya??

Ketika Allah telah melarang perbuatan maksiat khususnya dalam hal ini adalah perayaan tahun baru dalam banyak firman-Nya dan melalui lisan Rosul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun kita tidak mematuhinya, tidak menghamba kepada-Nya dan justru malah mengikuti dan mematuhi kepada hawa nafsu, bisikan syaiton, apakah ini tidak berbahaya kepada akidah kita, kepada agama kita?

Maka kaum muslimin yang insyaa Allah di muliakan Allah, jangan pernah kita menyepelekan dosa, karena pada hakikatnya ketika kita berbuat dosa adalah menghaba kepada hawa nafsu atau bisikan syaiton dan berpaling dari peringatan Allah subahanahu wa ta’ala.

Dan terkhusus pada kaum remaja, muda mudi kaum muslimin semuanya, mari kita renungkan betapa sia-sia waktu kita ketika kita banyak menghabiskan masa muda kita dengan maksiat, dan meninggalkan berbekal ilmu, amalan dan dakwah untuk meraih kebahagiaan di kampung halaman yaitu akhirat kelak.

Apakah kita rela menukar akhirat dengan dunia?? Padahal akhirat jauh lebih mahal dari dunia, akhirat lebih kekal dari dunia. Apakah kita rela demi kesenangan dunia kita meninggalkan kesenangan akhirat.

Mari kita ingat sabda Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang di riwayatkan dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

Dunia adalah penjara bagi orang mukmin dan surga bagi orang kafir” (HR. Muslim)

Maka mari kita bersabar menghadapi dunia ini untuk meraih akhirat yang kekal. Dan ingatlah kebesaran Allah, ingatlah nikmat Allah kepada kita. Apakah dengan nikmat yang banyak dari Allah kita akan membalasnya dengan kemaksiatan??

“Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan”

Cukuplah kita balas nikmat yang banyak ini dengan ketaatan kepada Allah yaitu dengan mengimplementasikan taqwa yaitu dengan mentaati perintah dan menjauhi larangan-Nya. Ketika perayaan – perayaan yang tidak ada syariatnya dalam Islam, dan bahkan merupakan kemungkaran, atau kemaksiatan kepada Allah jalla jallaluhu maka sebagai implementasi ketaqwaan kita umat muslimin wajib untuk menjauhi dan meninggalkan perbuatan dan perayaan harom ini.

Tidak akan rugi kita, ketika kita menjauhi larangan Allah subahanahu wa ta’ala walaupun terkesan larangan ini sangat indah dan menyenangkan. Ketika kita melihat betapa indahnya dunia, maka ingatlah betapa lebih Indah akhirat.

Apakah kita tidak ingin mencari nikmat dengan sebesar-sebarnya nikmat yaitu memandang wajah Allah subhanahu wa ta’ala di akhirat kelak??

Coba kita renungi, banyak diantara kita senang untuk rihlah, refreshing, tamasya di tempat-tempat yang indah, memandang pemandangan alam yang indah, gunung-gunung, lautan, bukit, dan lain sebagainya. Batapa indah pemandangan yang telah di ciptakan Allah ini.

Namun ingatlah, apa – apa yang indah ini adalah ciptaan Allah. Allahlah yang menciptakan keindahan ini, yang setiap mata akan terpesona melihatnya. Dan kini jika kita mau berfikir, apa – apa yang di ciptakan ini saja sudah bisa membuat mata kita terpesona melihatnya, bagaimana Allah subahanahu wa ta’ala dzat yang menciptakan ini, dzat yang di sifati dengan Al-Jamil yang maha Indah??

Maka untuk siapa saja yang mengharap pertemuan dengan Allah di akhirat kelak, hendaknya kita semua menjauhi perbuatan-perbuatan yang di larang Allah seperti syirik, bid’ah dan maksiat-maksiat. Karena ini merupakan salah satu sisi dari implentasi ketaqwaan kepada Allah yang telah Allah syariatkan kepada kita.

Mudah-mudahan kita selalu di beri taufiq dan hidayah untuk dapat menginplementasikan taqwa kepada Allah dengan selalu patuh pada perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Dan mudah-mudahan kita selalu di beri kemudahan dan kesabaran untuk menjalaninya. Amiin. Wallahu a’lam.  


Read More »