• Pendaftaran Group WA RBM Quotes

    Saat ini Rumah Belanja Muslim membuka Group WhatsApps (WA) khusus akhwat. Group ini kami beri nama “RBM Quotes”. Gabung di group inu GRATIS, siapa saja boleh gabung asal muslimah dan siap menjaga adab dan mematuhi peraturan Group.

  • Kain Shakila

    Pernah dengar kain shakila ? Atau pernah liat kain shakila ? Apakah jenis kain shakila ini adem dan bagus ? Yuk kita sedikit ulas kain shakila yang sekarang lagi banyak diminati ini.

  • Untuk Apa Medsos Kita

    Untuk apa sosmed kita ? Mungkin ini adalah pertanyaan yang tepat yang dapat kita tujukan kepada diri kita masing - masing....

  • Mengapa Anak Berbusana Syar'i Sejak Dini ?

    Melihat anak - anak yang belum baligh memakai busana syar'i bahkan ada yang di pakaikan cadar oleh orang tuanya. Mungkin ada sebagian dari kita yang bertanya - tanya. Emang harus ya anak - anak di kasih baju seperti itu ?

  • Jangan Malu Memakai Sirwal Laa Isbal

    Kalimat ini mungkin cocok untuk kita sampaikan kepada saudara - saudara kita yang ingin berhijrah mengenakan pakaian yang Islami, namun masih sungkan dan malu - malu memakainya.

Tampilkan postingan dengan label bersyukur. Tampilkan semua postingan

Raslullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam Selalu Memuji Dan Bersyukur Kepada Allah ‘Azza Wa Jalla Dikala Senang Dan Susah

0 komentar
Bersyukur

Seluruh kenikmatan yag dikecap seorang hamba bersumber dari Allah ‘azza wa jalla semata. Kewajiban seorang hamba, ialah mensyukuri nikmat-nikmat tersebut, walaupun dalam pandangan manusia sangat remeh. Tetap saja kenikmatan tersebut mesti disyukuri, sebab murni merupakan rahmat dan kemudahan dari-Nya, bukan dari kemampuan dan daya manusia.

Bersyukur, mencerminkan dua manfaat besar (Syarah Riyadhis Shalihin1/1492). Pertama, pengakuan kepada Allah ‘azza wa jalla akan kemurahan, keutamaan dan kebaikan-Nya yang tercurahkan. Dan kedua, merespon nikmat-Nya dengan bersyukur itu sendiri menjadi faktor yang mendatangkan tambahan nikmat.

Apabila seorang insan mensyukuri nikmat Allah, niscaya Allah ‘azza wa jalla akan memberi tambahan nikmat baginya. Namun sebaliknya, ketika mengingkari kenikmatan-Nya, ia telah menempatkan dirinya pada ancaman siksa Allah ‘azza wa jalla yang sangat pedih.

Dalam konteks ini pula, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lah yang menjadi cermin teladan. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pada saat mengalami hal-hal yang menyenangkan, beliau mengutarakan pujian dan syukurnya kepada Allah ‘azza wa jalla dengan berkata,

segala puji bagi Allah yang dengan kenikmatan-Nya segala kebaikan terselesaikan (ash-shahihah no.262

Dalam kondisi yang lain pun ketika berhadapan dengan sesuatu yang tidak menceriakan hati dan tidak mengenakkan semisal musibah dan lainnya, lantunan puji syukurpun tetap tersimpul dari bibir beliau yang mulia. Karena pengetahuan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam akan hikmah besar yang terkandung dalam peristiwa yang tidak membahagiakan qolbu. Beliau benar-benar insan teladan agi seluruh makhluk. Ungkapan pujian beliau dalam keadaan ini yaitu,

Segala puji bagi Allah dalam setiap kondisi” (ash-shahihah no. 265)

Allah ‘azza wa jalla mempunyai nama al-Hamid (Maha Terpuji). Banyak ayat yang telah menjelaskan betapa terpujinya Allah ‘azza wa jalla. Allah ‘azza wa jalla terpuji dalam segala kondisi dan segenap urusan. Semua perbuatan-Nya merupakan khoir mahdh (kebaikan murni). Meskipun dalam penetapan takdir yang memuat unsur yang tiak mengenakkan di mata manusia. Hal itu tidak menjadi alasan untuk menanggalkan sifat Terpuji dari Allah ‘azza wa jalla. Mengingat segala perbuatan Allah ‘azza wa jalla mengandung hikmah baik dan luhur yang terkadang (seringkali) tidak terpahami oleh akal manusia yang dangkal.

Ibnu Qoyyim rahimahullah menjelaskan bahwa kejelekan tidak melekat dalam sifat-sifat Allah ‘azza wa jalla dan dzatNya, juga tidak termasuk dalam perbuatan-perbuatan-Nya. Kejelekan tidak kembali kepada-Nya, juga tidak dinisbatkan kepada-Nya, baik perbuatan atau sifat...(­al-Bada’i 1/148).

Semoga Allah azza wa jalla memberikan taufiq kepada kita sekalian untuk menerima segala ketentuan-Nya dengan hati lapang dan penuh kesabaran. Wallahu a’alam, (AM).

Sumber : Majalah As Sunnah Edisi 10 Th. XII.

Read More »

Tingkatan Manusia Muslim Dalam Menghadapi Musibah

0 komentar

Tingkatan Manusia Muslim Dalam Menghadapi Musibah 
Manusia dalam menyikapi musibah dapat dikualifikasikan menjadi empat macam. Pertama, orang yang bersyukur. Kedua, orang yang ridho. Ketiga, orang yang sabar. Keempat, orang yang berkeluh kesah (jazi’).

Orang yang jazi’, artinya ia telah melanggar tindak yang diharamkan, murka terhadap ketentuan (qadha’) Rabbul ‘alamin yang ditangannya pengaturan langit dan bumi. Dialah pemilik kerajaan, sehingga berwenang melakukan apa saja yang dikehendaki-Nya.

Orang yang bersabar dalam menghadapi musibah, yakni orang orang yang dapat menanggung musibah yang melanda. Maksutnya, ia mengetahui hal itu pahit, berat dan susah. Dia tidak suka musibah itu datang, namun ia mampu teguh dalam menanggungnya dan menjaga dirinya dari berbuat yang diharamkan. Ini wajib.

Orang yang ridha. Yaitu sosok yang tidak peduli terhadap musibah. Memandang semua itu berasal dari Allah subhanahu wa ta’ala, sehingga ia menjadi manusia yang menerima dengan ridha kepada Allah secara total. Di qolbunya, tidak ada sedikitpun kesedihan ataupun penyesalan. Karena ia memang benar-benar ridha kepada Allah. Tingkatannya lebih tinggi daripada golongan yang bersabar. Atas dasar itu, maka sikap ridha kepada Allah dalam menghadapi musibah hukumnya mustahab, bukan wajib.

Adapun orang yang bersyukur, maknanya orang ini bersyukur kepada Allah subhanahu wa ta’ala atas musibah yang menimpanya. Lantas, bagaimana ia bisa bersyukur kepada Allah subhanahu wa ta’ala, padahal ia sedang menghadapi mussibah?

Ada dua aspek yang menjadi alasan rasa syukurnya.
Pertama, ia memperhatikan orang yang tertimpa musibah yang lebih berat darinya. Ia bersyukur kepada Allah, lantaran tidak ditimpa musibah seberat itu. Dalam konteks ini, terdapat sebuah hadits,
Janganlah kalian melihat orang yang berada diatas kalian, tetapi lihatlah orang-orang yang berada dibawah kalian. Itu lebih patut, agar kalian tidak melecehkan nikmat Allah kepada kalian. (HR. Muslim, kitab az Zuhdu (2963), dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu).

Kedua, ia mengetahui bahwa musibah itu akan menggugurkan dan menghapus dosa-dosanya. Ia juga mengetahui, bahwa musibah itu akan dapat meningkatkan derajatnya disisi Allah bila ia bersabar. Janji di akhirat lebih baik dari (pesona dunia), maka ia pun bersyukur kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Dia juga memahami, orang yang paling dahsyat cobaannya adalah para Nabi, kemudian orang-orang yang shalih dan orang-orang yang serupa dengan mereka, dan seterusnya. Sehingga ia pun berharap menjadi orang shalih dengan cobaan itu, dan akhirnya ia memanjatkan rasa syukur kepada Allah subhanahu wa ta’ala atas anugerah itu.

Syukur (dalam musibah), hukumnya mustahab, dan tingkatannya di atas ridha. Sebab, syukur saat tertimpa musibah mengandung makna lebih dari sekedar ridha (dan makna positif lain). (mas)

(Syaikh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin rahimahullah dalam Asy Syarhu al Mumti’, 5/495-496).

Sumber : Majalah As Sunnah, Edisi 03/X/1427 H. 

Read More »